Berita Surabaya

Desainer Ulfa Mumtaza Eksplor Batik Jawa Timur pada Koleksi 'Chondra Anindya'

Desainer Ulfa Mumtaza ingin mewujudkan rasa cintanya pada batik Jawa Timur, lewat koleksinya yang bertajuk 'Chondra Anindya'.

Desainer Ulfa Mumtaza Eksplor Batik Jawa Timur pada Koleksi 'Chondra Anindya'
SURYA.co.id/Delya Octovie
Desainer Ulfa Mumtaza Eksplor Batik Jawa Timur pada Koleksi 'Chondra Anindya' 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebagai seseorang yang menghabiskan masa kecilnya di Jawa Timur (Jatim), desainer Ulfa Mumtaza tumbuh seraya melihat keindahan batik-batik di kota-kota Jatim.

Maka, tak heran jika desainer anggota APPMI Jatim ini ingin mewujudkan rasa cintanya pada batik Jatim, lewat koleksinya yang bertajuk 'Chondra Anindya'.

"Saya mengambil 'Chondra Anindya', yang artinya mengungkap rahasia kecantikan. Saya memang ingin menunjukkan kecantikan batik Jatim, lebih spesifiknya Jatim barat. Selama ini kan kebanyakan pasti batik Jatim daerah timur seperti Madura," tuturnya saat konferensi pers yang digelar di Hotel Bumi, Surabaya, Sabtu (18/5/2019).

Ulfa mengatakan, ia memilih motif-motif batik Jatim karena merasa bertanggungjawab untuk mengeksplor lebih dalam batik daerah asalnya tersebut.

Ia ingin turut melestarikan, bahkan mengangkat motif yang terlupakan agar bisa kembali naik pamor.

"Saya ingin yang tadinya belum terkenal jadi terkenal, yang sudah dikenal bisa lebih terkenal lagi. Bahkan, harapan saya, kalau bisa terkenal hingga mancanegara juga," ujar ketua Ikatan Pengusaha Muslimah (IPEMI) Madiun tersebut.

Secara spesifik, dalam peragaan busana yang menggandeng New Next Management ini, Ulfa menampilkan batik dari enam daerah, yakni Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Ponorogo dan Pacitan.

Ke enam daerah tersebut memiliki keunikan tersendiri.

Untuk batik Pacitan, Ulfa mengangkat tumbuhan pace sebagai motif dengan sentuhan klasik.

Kemudian batik Magetan didominasi motif bambu, Kabupaten Madiun mengangkat hasil daerah seperti gabah sinawur, Ponorogo flora, dan Madiun pecel.

"Kalau batik Ngawi, saya lebih mengangkat ke Museum Trinil. Jadi ada motif-motif tulang, flora dan fauna, tapi yang sudah jadi fosil," imbuhnya.

Tiap karyanya memang menonjolkan batik.

Namun, Ulfa juga mengombinasikannya dengan brokat, tile hingga satin roberto.

"Batiknya saya kombinasi dengan bahan-bahan polos, tile, brokat, lalu dihiasi dengan swarovski," katanya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved