Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Kediri

Manfaatkan Energi Terbarukan, Ada PLTS di Ponpes Wali Barokah Kota Kediri

Instalasi PLTS yang dibangun di Ponpes Wali Barokah berukuran 40 m x 41 m.

Tayang:
Penulis: Didik Mashudi | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/didik mashudi
Panel solar cell yang terpasang di atap bangunan Ponpes Wali Barokah, Kota Kediri, Kamis (16/5/2019). 

SURYA.co.id | KEDIRI - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Ponpes Wali Barokah, Kota Kediri merupakan bentuk pemanfaatan dan penerapan energi baru terbarukan (EBT) sesuai dengan rencana jangka panjang organisasi.

Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Prasetyo Sunaryo mengatakan, selama ini pondok pesantren masih tergantung kepada perusahaan listrik negara (PLN) dalam membantu penerangan di lingkungan pondok.

Akibatnya beban biaya yang ditanggung setiap tahun terus meningkat seiring dengan besarnya pemakaian listrik.

"Berkaca dari hal tersebut DPP LDII melakukan terobosan berupa pembangunan PLTS sendiri. Tahap awal dibangun di Ponpes Wali Barokah Kota Kediri," jelas Prasetyo Sunaryo, Kamis (16/5/2019).

Dijelaskan, pendayagunaan EBT komparasinya bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energi BBM.

"Ini yang menjadi pemahaman organisasi yang kita terapkan," tambahnya.

Sedangkan pemilihan PLTS karena khusus energi matahari di Indonesia sebagai negara tropis tidak ada musim salju. Sehingga energi matahari tersedia sepanjang tahun.

Dari perspektif religius, penggunaan energi matahari merupakan manifestasi kesyukuran kepada Allah yang memberikan karunia Indonesia dengan sinar matahari yang tak ternilai harganya.

Sementara KH Sunarto, Pengasuh Ponpes Walibarokah mengungkapkan, pihaknya ingin mensyukuri anugerah Allah berupa sinar matahari, untuk menjadi energi listrik yang menerangi pondoknya.

Sehingga ada penghematan biaya pengelolaan pondok secara signifikan.

“Untuk ke depannya ada pemikiran menjadikan ponpes sebagai wisata religi dan edukasi teknologi PLTS. Sehingga menginspirasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penerapan Energi Baru Terbarukan,” jelasnya.

Instalasi PLTS yang dibangun di Ponpes Wali Barokah berukuran 40 m x 41 m.

Sementara pakar PLTS Ponpes Wali Barokah, Horisworo, menyebutkan pertimbangan pembangunan PLTS untuk memberikan manfaat yang lama.

Dana yang terkumpul secara gotong royong warga LDII dibelikan panel surya (solar cell) yang premium grade buatan Kanada.

“Harganya, termasuk peralatan penunjangnya mencapai Rp 10,1 miliar. Tapi potensi umat yang besar ini harus diwujudkan dengan membeli yang premium grade," ungkapnya.

Horisworo menyampaikan, sayang bila hanya membeli yang harganya lebih murah.

Karena yang perlu dipahami mahalnya itu di depan saja karena ada garansi 25 tahun dari produsennya Kanada sehingga lebih efisien.

Horisworo menyampaikan pada akhirnya PLTS akan menghasilkan 1 juta watt. Saat ini masih belum dioptimalkan seluruhnya.

Karena kebutuhan ponpes dengan 5.000 santri sudah terpenuhi dan masih ada kelebihan.

Penerangan di ponpes yang terletak ditengah Kota Kediri juga sangat bagus sehingga membuat santri lebih nyaman belajar dan beraktifitas serta efisien karena memanfaatkan PLTS.

“Prinsipnya Ponpes Wali Barokah sudah mempraktekan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT," ungkapnya.

Pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan, pihaknya sudah menabung dan berinvestasi untuk mandiri energi, memanfaatkan karunia Allah.

Malahan sampai untuk penentuan titik dimana intensitas sinar matahari terbesar dengan meminta bantuan satelit NASA.

"Di gedung inilah yang intensitas sinar matahari tertinggi," jelasnya.

Sebelumnya Horisworo juga menyebutkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik secara mandiri juga dikembangkan pembangkit lisrik berskala kecil yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pabrik teh Jamus di Ngawi.

Pabrik teh peninggalan Belanda tahun 1928 seluas 478 ha itu, semula digarap menggunakan bahan bakar minyak ( BBM) dan kayu bakar.

Saat ini semuanya menggunakan listrik secara mandiri PLTMH.

Menurut Purwanto Wahyu, Pimpinan Perkebunan Jamus, untuk satu unitnya mampu menghasilkan 100 Kwh dengan investasi awal sebesar Rp 1,7 miliar.

Kemudian dibangun satu unit lagi dengan biaya Rp 900 juta dengan menghasilkan 100 Kwh dan setahun kemudian disusul pembangunan lagi yang melewati tanah masyarakat dengan menghasilkan 50 Kwh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved