Mengenang Korban Bom Surabaya

Tiga Bulan Setelah Bom Surabaya, Novi Masih Tak Percaya Adiknya Turut Jadi Korban

Selama 3 bulan sejak bom menghancurkan GPPS Surabaya, Novi masih belum percaya bahwa adiknya turut menjadi korban meninggal dunia.

Tiga Bulan Setelah Bom Surabaya, Novi Masih Tak Percaya Adiknya Turut Jadi Korban
surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana
Novi Putri Kusumawati dan Sumijah menunjukkan foto Daniel semasa hidup, Rabu (8/5). Daniel adalah salah satu korban meninggal dunia dalam serangan bom bunuh diri di GPPS Jl Arjuno, Surabaya, 13 Mei 2018 silam. 

Kalau saja, Daniel tak mengurungkan niat untuk tidak berangkat menjaga parkir, dia akan selamat dari maut. Namun, takdir berkata lain. Sekitar pukul 08.00 Novi mendapat kabar ada bom meledak di GPPS.

Novi pun mencoba mencari Daniel ke lokasi. Namun, hingga tengah malam Daniel tak kunjung ditemukan hingga tengah malam.

"Saya mencari dengan teman dan tetangga sampai larut malam, Daniel belum juga ditemukan. Saya beranggapan Daniel bersembunyi," terangnya.

Namun, keesokan harinya, dia mendapat kabar bahwa Daniel berada di Rumah Sakit Bhayangkara dan telah meninggal dunia. 

"Saya tetap masih berpikir positif bahwa Daniel masih hidup dan sembunyi. Padahal tes DNA-nya cocok dengan ayah dan giginya cocok dengan saya. Meski tak percaya, saya tak dapat membendung tangis," paparnya.

Beberapa hari Novi tak dapat menahan kesedihannya. Kondisi badannya pun berangsur menurun. Novi tetap tak percaya sang adik telah tiada.

"Saya yakin Daniel sembunyi dan masih hidup. Karena menurut saya dokter bisa saja salah saat menyamakan DNA dan gigi. Tuhan yang tak pernah salah. Sembari mencari saya berdoa kepada Tuhan, bila Daniel meninggal pertemukan saya di dalam mimpi," ungkapnya.

Hingga 3 bulan berselang, Daniel tak menemuinya dalam mimpi. Dia semakin yakin  Daniel hidup. Dia sempat memberikan pesan kepada rekan-rekannya lewat aplikasi chating.

"Saya mengirimkan pesan kepada teman 'bila menemukan Daniel tolong, disuruh pulang ke rumah. Apapun kondisinya saya akan merawat dan menerimanya," katanya.

Namun, pada bulan keempat, Novi benar-benar bertemu dengan Daniel. Sayangnya, mereka bertemu di dalam mimpi. Hal itu pertanda bila Daniel telah tiada, sebagaimana dia berdoa sebelumnya. Harapan Novi pun pupus.

"Di dalam mimpi, Daniel berkata 'mbak tidak usah menangis. Aku di dunia (kehidupan nyata) itu sakit mbak. mungkin ituu pilihan dia dan Tuhan. Saya pun memeluknya. Saat terbangun saya menangis dan menyadari bila Daniel telah tiada," paparnya.

Sementara itu sang nenek, Sumijah (71) mengatakan dirinya beruntung dapat mengabulkan permintaan terakhir Daniel. Tahun lalu, tepatnya 17 November 2018, dia membelikan motor Honda GL Max yang diidamkan Daniel.

"Kalau seandainya saya tidak menyanggupi permintaan terkahir Daniel, saya akan lebih menyesal lagi. Saya menabung agar bisa membelikan Daniel sepeda motor," katanya.

Namun, motor kesayangan Daniel itu rusak tak berbentuk karena ledakan bom. Sumijah hanya bisa menyimpan alat perkakas motor milik Daniel.

Sumijah bersama Novi akan menggelar doa bersama setahun pasca ledakan bom Surabaya yang merenggut nyawa Daniel. Doa bersama akan digelar tanggal 15 Mei 2019 di kediamannya.

"Harapannya setahun pasca bom Surabaya, saya diberikan kesehatan untuk menemani Novi hingga mempunyai keluarga. Saya berdoa kepada Tuhan, agar memberi saya kekuatan hingga bisa menemani Novi sampai menikah. Tidak aneh-aneh. Yang saya miliki satu-satunya saat ini adalah Novi," pungkasnya sembari berurai air mata. 

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved