Tak Mudah Mengubah Kebiasaan Koruptif di Lembaga Pelayanan Publik 

Meluncurkan program perbaikan pelayanan itu mudah dilakukan di semua instansi. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan kurang baik, kebiasaan koruptif

Tak Mudah Mengubah Kebiasaan Koruptif di Lembaga Pelayanan Publik 
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Penandatanganan pakta pembangunan Zona Intergritas (ZI) menuju WBK/WBBM di Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong Sidoarjo, Selasa (14/5/2019). 

SURYA.co.i d| SIDOARJO - Meluncurkan program perbaikan pelayanan itu mudah dilakukan di semua instansi. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan kurang baik, kebiasaan koruptif, dan kebiasaan tak terpuji lain yang selama ini banyak terjadi di instansi-instansi pelayanan publik.

Demikian dikatakan Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jatim, Agus Widiyarta di sela acara deklarasi dan penandatanganan pakta pembangunan Zona Intergritas (ZI) menuju WBK/WBBM di Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong, Sidoarjo, Selasa (14/5/2019).

Menurut Agus, membangun ZI Menuju WBK/WBBM itu tidak mudah, tapi pasti bisa dicapai. Ada dua hal penting untuk meraihnya, pertama adalah dokumen dan pembangunan fisik yang relatif mudah dipenuhi.

"Yang paling sulit mungkin adalah kita terbebas dari perilaku koruptif. Menghilangkan praktik-praktik kurang baik dalam pelayanan," terangnya.

Agus mengungkapkan yang paling sulit diubah adalah 'kebiasaan' menerima gratifikasi. Fenomena ini terjadi mayoritas di instansi pelayanan publik.

Karena petugas penyelenggara pelayanan publik pasti berhadapan dengan godaan dari pengguna layanan untuk mendapatkan pelayanan yang istimewa dan melanggar SOP.

"Untuk Lapas Kelas 1 Surabaya, saya yakin mampu meraih predikat ini, kami siap mendukung," lanjut dia.

Pemerintah pusat telah menetapkan strategi nasional pencegahan korupsi (Stranas PK) 2019 di bidang reformasi hukum. Salah satu yang ditunjuk untuk mensukseskan program tersebut adalah Lapas Kelas I Surabaya.

Kemudian Lapas yang terletak di Porong itu mendeklarasikan dan menandatangani pakta pembangunan Zona Intergritas (ZI) menuju WBK/ WBBM.

Suharman, Kepala Lapas Porong optimistis bisa meraih predikat WBK. Karena selama ini pihaknya telah berusaha melakukan tugas dan fungsi sesuai dengan SOP yang berlaku.

"Semoga kami bisa mengemban amanah stranas PK 2019 dengan baik," harapnya.

Sedangkan Kadiv Pemasyarakatan, Pargiyono, di kesempatan ini menyampaikan bahwa bahwa penunjukan Lapas Surabaya ini mendadak sehingga akan sangat berat.

Untuk itu, menurutnya, seluruh pegawai, WBP dan stakeholder terkait harus terlibat dalam pembangunan ZI.

"Seluruh stakeholder harus memiliki komitmen yang sama, yaitu bebas dari korupsi," terangnya.

Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved