Breaking News:

Sosok

Potret CEO Think Indonesia dan Founder NGD Program Esti Nalurani (Cici), Fokus Organisasi Kepemudaan

CEO Think Indonesia, Esti Nalurani, tak pernah putus asa menyebarkan semangat berbisnis dan beretika kepada para pelajar dan mahasiswa.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: irwan sy
surya/ahmad zaimul haq
CEO Think Indonesia dan Founder NGD Program, Esti Nalurani (Cici) 

Tahap Movement Program menurut ibu tiga anak itu ditujukan untuk para pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa yang ingin merencanakan hidupnya agar lebih terarah dan sukses.

Sementara tahap Embryo Program, dirancang untuk para orang tua yang ingin generasi penerus mereka memiliki mental yang kuat dan nilai hidup yang benar.

Cici mengaku, setiap orang tua harus paham pentingnya tahap Embryo Program. Peran penting orang tua, lingkungan, bahkan bidan dan dokter yang menangani persalinan sangat berpengaruh kepada masa depan anak.

"Dari kebidanan saya tahu, ketika bayi lahir normal, sebenarnya sudah diinstal tuhan untuk bisa menemukan jalan lahirnya sendiri. Bahkan dapat melakukan gerakan memutar bahu dan adaptasi posisi tanpa ada yang mengajari. Semua itu adalah insting survive untuk dapat lahir dengan selamat, bidan membantu menolong kelancaran prosesnya dengan berusaha menerima bayi yang lahir dan membantu bayi keluar dari rahim lebih lancar," kata perempuan yang sempat menempuh pendidikan di ilmu kebidanan itu.

Dari kebidanan juga dia paham setiap manusia sudah diciptakan memiliki tujuan hidupnya dan bisa bertahan. Ketika bayi lahir normal, sebenarnya bidan hanya menunggu bayi lepas dari rahim ibu. Bayi sudah tahu cara keluar karena sudah diinstal oleh Allah.

"Akan tetapi, ketika tumbuh anak banyak mendengar 'Nak jangan nanti jatuh, Nak jangan itu kotor'. Sebenarnya siapa yang merusak mereka? Makanya kita perbaiki di embryo program. Kalau dia sudah membuat decision (keputusan), kita harus menginstal dan mulai percaya kepada anak. Dia bisa membuat decision yang baik di Movement Program," terang Cici.

Kini Cici memiliki ratusan bahkan ribuan siswa di seluruh Indonesia. Banyak siswanya lolos belajar entrepreneur dan memiliki penghasilan yang tak sedikit di usia mereka. Ia memang fokus pada para pelajar dan mahasiswa, kisaran umur 14-25 tahun.

“Usia 14 tahun adalah usia yang pas untuk instal kembali semangat survival mereka, hidup mandiri, dan tidak merepotkan orang tua. Ada berbagai murid kami berusia belasan tahun mulai beginner hingga memiliki omzet ratusan juta rupiah. Ada juga yang dapat beasiswa, dan ada juga yang melanjutkan pendidikan ke Jepang," cerita Cici.

Sampai saat ini Cici aktif di banyak organisasi kepemudaan. Dia mengaku bukan tipikal orang yang mengagung-agungkan entrepreneur karena diakui atau tidak tidak, semua orang bisa menjadi entrepreneur atau mau menjadi entrepreneur.

"Jadi pekerjaanku ini bukan trainer bukan motivator. Aku mentor karena pernah menjadi pedagang, online shop, pernah punya usaha bangkrut, jadi aku spesialisnya ke new entrepreneur atau new start up. Aku mulai dari mindset sampai teknik negosiasi, kemudian marketing, komunikasi. Nah karena networking aku besar, setiap murid nanti aku arahkan untuk mendapatkan mentor dari networking-ku," jelas Cici.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved