Berita Surabaya

Pria Surabaya Beli Hewan Dilindungi dari Makassar, Hendak Dijual Lagi ke NTT, Ngakunya Titipan

Di antara satwa-satwa yang dilindungi juga ditemukan yang mati di dalam kandang plastik maupun karung.

Pria Surabaya Beli Hewan Dilindungi dari Makassar, Hendak Dijual Lagi ke NTT, Ngakunya Titipan
tribun jatim/nurika anisa
Hewan-hewan dilindungi yang dijual belikan oleh pria Surabaya dan rekannya, diperlihatkan di Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Sabtu (11/5/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - HM (35) asal Surabaya rekanannya SRW (28), warga Gresik membeli ratusan burung dan beberapa hewan melata yang dilindungi secara online dari Makasar.

Beberapa hewan yang dilindungi itu di antaranya burung elang, burung nuri kepala hitam, kakak tua, ular, biawak, ratusan burung manyar, burung tuwu dan hewan-hewan melata lainnya.

Burung-burung tersebut kemudian dikirim paket melalui muatan truck di KM Dharma Kartika ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Karena hewan-hewan yang dibelinya terdapat satwa yang dilindungi dan tidak memiliki dokumen karantina, dua pria tersebut berurusan dengan polisi.

"Modus mereka membeli online kemudian menggunakan jasa ekspedisi dikirim dari Makasar ke Surabaya," kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Antonius Agus Rahmanto, Sabtu (11/5/2019).

Pihaknya kemudian bekerja sama dengan Karantina Pelabuhan Tanjung Perak untuk memeriksa kondisi satwa-satwa tersebut.

Sebab, di antara satwa-satwa yang dilindungi juga ditemukan yang mati di dalam kandang plastik maupun karung.

"Kami mengecek kesehatan hewan untuk pencegahan penyakit, kalau yang dilindungi kami akan serahkan ke BKSDA," katanya Dr Hewan Karantina Pelabuhan Tanjung Perak Endah Kusumawati.

Sementara itu, HM dan SRW mengaku kerap menjual beli burung tuwu dan akan mengirimkan satwa-satwa tersebut ke Nusa Tenggara Timur.

"Saya disuruh ngambil, ada yang nyuruh orang. Saya dikasih (upah) Rp 200 ribu, disuruh kirim lagi ke NTT," akui SRW.

"Tahu itu (dilindungi) baru kali saja," sahut HM.

Gara-gara burung, keduanya disangkakan pasal 21 ayat (2) no 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya jo pasal 42 ayat (2) PP RI no 8 tahun 1998 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

"Ancaman hukuman lima tahun dan denda sebesar Rp 100 juta," kata AKBP Antonius Agus Rahmanto. (Nurika Anisa)

Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved