Hoaks Ratna Sarumpaet

Hoaks Ratna Sarumpaet Tidak Termasuk Pidana, Kata Saksi Ahli : Bohong Tak Dilarang di Hukum Pidana

Ternyata, Hoaks Ratna Sarumpaet tidak termasuk pidana. Itu seperti yang disampaikan oleh saksi ahli dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir.

Hoaks Ratna Sarumpaet Tidak Termasuk Pidana, Kata Saksi Ahli : Bohong Tak Dilarang di Hukum Pidana
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ratna Sarumpaet menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019). Hoaks Ratna Sarumpaet Tidak Termasuk Pidana, Kata Saksi Ahli : Bohong Tak Dilarang di Hukum Pidana 

SURYA.co.id | JAKARTA - Ternyata, Hoaks Ratna Sarumpaet tidak termasuk pidana. Hal itu seperti yang disampaikan oleh saksi ahli dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir.

Mudzakir merupakan pakar hukum pidana yang dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang kasus penyebaran Hoaks Ratna Sarumpaet, Kamis (9/5/2019).

Ia mengungkapkan, Hoaks Ratna Sarumpaet tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan melanggar hukum pidana.

"Bohong itu tidak dilarang dalam hukum pidana tapi dilarang dalam bidang-bidang yang lain," kata Mudzakir seusai sidang di PN Jakarta Selatan, Kamis siang.

Kok bisa? Mudzakir kemudian menjelaskan. Menurutnya, kebohongan Ratna Sarumpaet hanya disampaikan kepada keluarga dan kerabat dekatnya sehingga tidak bisa disebut sebagai pidana.

Ferdinand Simpulkan Orasi Eggi Sudjana : Ada Penggulingan Kekuasaan yang Sah pada Jokowi

Kurang dari Seminggu, Dua Pentolan 212 Bachtiar Nasir dan Eggi Sudjana Jadi Tersangka Pidana

Karena itu, Mudzakir menilai, masalah kebohongan Ratna semestinya sudah selesai ketika Ratna mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada orang-orang yang telah dibohongi.

"Kalau sekarang orang itu telah mengakui bahwa ia dipukuli itu adalah bohong dan ia minta maaf terhadap orang-orang yang membaca menerima informasi itu, kan, sudah selesai," ujar Mudzakir.

Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet bermula ketika foto lebam wajah Ratna beredar luas di media sosial.

Kepada beberapa pihak, Ratna mengaku jadi korban pemukulan orang tidak dikenal di Kota Bandung, Jawa Barat.

Belakangan, Ratna mengklarifikasi bahwa berita penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong. Muka lebamnya bukan disebabkan penganiayaan, melainkan karena operasi plastik.

Ratna didakwa dengan Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana.

Jaksa juga mendakwa Ratna dengan Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45 A Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Editor: Iksan Fauzi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved