Liputan Khusus

Berpeluang Melenggang ke Parlemen, Caleg Unggulan Sabar Mennggu Hasil Hitung Resmi KPU

Sejumlah caleg unggulan memang optimistis bakal melenggang ke gedung parlemen. Namun, mereka masih bersabar menunggu hasil hitung resmi KPU

Berpeluang Melenggang ke Parlemen, Caleg Unggulan Sabar Mennggu Hasil Hitung Resmi KPU
surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
(Foto dok) Bambang DH (kedua dari kanan) dan Puti Guntur Soekarno (kedua dari kiri). Keduanya berpeluang lolos ke DPR RI. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Calon anggota legislatif DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) nomor urut 1, Syaikhul Islam optimistis memperoleh banyak suara di Dapil Jatim I, khususnya dari Kabupaten Sidoarjo.

Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Sidoarjo, PKB menempati posisi pertama dengan 269.732 suara dan suara terbanyak diraih Syaikul Islam yang mendulang 114.437 suara.

Dengan suara sebanyak itu, putra KH Agoes Ali Mashuri ini tentu akan mudah melenggang kembali ke Senayan. 

"Namanya kontestasi pilihan langsung itu bagaimana kita mendekat dengan rakyat. Itu yang lebih utama dari segala sesuatunya," ujar Syaikhul Islam saat ditemui di kediamannya kawasan Pondok Bumi Shalawat, Sidoarjo, pekan lalu.

Banyak orang mempunyai persepsi bahwa untuk menjadi caleg itu harus punya uang banyak, punya jaringan yang luas, lalu memperoleh daya dukung dari partai politik dan seterusnya. 

"Sebenarnya dari saya pribadi, itu semuanya hanya pendukung saja. Yang utama itu bagaimana kita bisa intens menyentuh masyarakat," ungkapanya.

Syaikhul menjelaskan, kebetulan ia merupakan incumbent satu periode di DPR RI. Karena itulah secara tidak langsung, dirinya mempunyai  kesempatan yang lebih panjang, sekitar lima tahun untuk terjun ke masyarakat jika dibandingkan dengan caleg pendatang baru. 

"Bisa melalui reses atau kunjungan dapil. Untuk reses lima kali dan kunjungan dapil lima kali dalam satu tahun yang artinya kita punya lebih banyak untuk menyapa masyarakat," jelasnya.

Dia mengungkapkan, tidak ada perbedaan yang mencolok mengenai strategi politik yang dipakainya pada 2014 maupun di 2019.

"Tentunya dulu pada Pemilihan Umum 2014  agak begitu susah, lantaran saya belum dikenal apalagi tidak banyak berkiprah di masyarakat. Waktu terjun ke masyarakat selama satu tahun, sedangkan kalau sekarang punya waktu hingga lima tahun," paparnya.

Halaman
1234
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved