Liputan Khusus

Belajar Dari Pengalaman Pemilu Sebelumnya, Ning Lucy Kini Optimistis Raih Kursi ke-10 di DPR RI

Belajar dari pengalaman buruk di pileg sebelumnya, Lucy Kurniasari lebih matang di Pileg kali ini. dia pun yakin lolos ke Senayan.

surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Calon Legislatif (Caleg) Partai Demokrat dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur 1 (Surabaya-Sidoarjo), Lucy Kurniasari pada kegiatannya di Surabaya, beberapa waktu lalu. 

Alasannya jelas, pihaknya tak ingin untuk kali kedua kalah karena dicurangi. Lucy pun membawa sengketa pemilu ini jalur hukum yang berlaku dan dinyatakan sebagai pemenang.  Baru pada 18 Mei 2018 silam ia akhirnya bisa masuk DPR RI menggantikan Fandi Utomo melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW).

Bermodal pengalaman itu, Lucy pun kini lebih optimistis meraih kemenangan. "Saya tak ingin jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya," kata Caleg nomor 1 ini. 

Kursi di parlemen bukan merupakan tujuan utamanya. Namun, aspirasi dari konstituen yang telah memilihnya, yang ia utamakan.

"Untuk itu, saya berjuang kembali kali ini. Sebab, kami tak ingin mengecewakan konstituen saya," katanya.  

Ia mengatakan bahwa pengalaman pahit di pemilu sebelumnya tak membuatnya ciut untuk kembali mencalonkan diri. Termasuk, bersaing di Surabaya-Sidoarjo, daerah yang banyak diisi caleg potensial.  

"Saya dilahirkan dan dibesarkan di sini. Surabaya telah menjadi barometer nasional. Banyak aspirasi dari masyarakat yang kami terima di sini. Dengan begitu banyaknya dorongan tersebut, pantang bagi kami untuk meninggalkan," kata caleg yang telah berada di DPR RI sejak periode 2009-2014 ini. 

Selama setahun terakhir di Komisi IX DPR RI, sejumlah program menjadi perhatiannya. "Kami membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan. Oleh karena itu,beberapa rencana kerja yang belum tuntas selama setahun terakhir akan kami lanjutkan andai terpilih, khususnya untuk dapil Surabaya-Sidoarjo," katanya.  

Pihaknya menegaskan tak akan berlaku curang dengan mengandalkan berbagai cara kotor dalam menggaet suara. Misalnya, politik uang. "Saya tak ingin curang. Sebab, saya tak ingin dicurangi. Sekali lagi, satu suara rakyat itu sangat berharga," tegas perempuan asli Surabaya ini. (bob)

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved