Berita Magetan

Selain Diduga Tempat Prostitusi, Alasan ini Pembangunan Sejumlah Ruko di Maospati Magetan Dihentikan

Selain diduga menempati lahan milik negara, sejumlah ruko juga dijadikan tempat prostitusi pindahan dari kios Pasar Produk Unggulan (PPU) Maospati.

Selain Diduga Tempat Prostitusi, Alasan ini Pembangunan Sejumlah Ruko di Maospati Magetan Dihentikan
surya.co.id/doni prasetyo
Sejumlah aparat Satpol PP Kabupaten Magetan saat menghentikan pembangunan sejumlah ruko di bantaran sungai Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Senin (6/5/2019). 

SURYA.co.id | MAGETAN - Selain diduga menempati lahan milik negara, sejumlah ruko juga dijadikan tempat prostitusi pindahan dari kios Pasar Produk Unggulan (PPU) Maospati.

Hal ini membuat Satpol PP Pemkab Magetan meradang dan meminta pembangunan sejumlah Ruko di Desa Malang, Maospati, segera dihentikan.

"Kami menduga, tanah ditepi sungai Desa Malang, Kecamatan Maospati itu milik negara. Karena itu sambil kita telusuri, pembangunan ruko kami minta dihentikan, sampai status tanah jelas,"kata Kasi Operasi dan Pengendalian (Opsdal) Satpol PP Khamim Bashori kepada Surya, Senin (6/5).

Satpol PP, lanjut Khamim, sudah menghubungi DPU PR Pemkab Magetan, dan Provinsi Jatim, serta pejabat desa, dan kecamatan, agar mendapatkan titik terang, tentang kepemilikan tanah itu, yang kini disewakan dan dijual ke sejumlah warga itu.

"Dugaan kami kalau tanah yang berada dibantaran sungai Desa Malang itu milik negara, semakin terang. Apalagi pemilik ruko tidak ada satu pun yang bisa nenunjukkan bukti kepemilikkan tanah yang ditempati. Karena itu, kami minta pembangunan ruko dihentikan,"ujar Khamim.

Kepala Wilayah DPU PR Maospati, Kabupaten Magetan Eko Windarto, mestinya sesuai peraturan Kementerian PU menyebutkan, wilayah sungai tidak diperkenankan didirikan bangunan permanen.

"Aturan menteri PU, sepanjang kurang lebih 20 meter dari bibir sungai, dilarang mendirikan bangunan. Tapi faktanya, di sungai Desa malang, ada kafe yang dibangun persis dibibir sungai,"kata Eko Windarto.

Mestinya, lanjut Eko Widarto, saat pembangunan awal harus diingatkan, apalagi selain kafe, juga untuk usaha cuci mobil, potong rambut dan gudang barang.

"Fondasi kafe itu berbahaya, bila sungai meluap dan badan fondasi tergerus air pasti akan roboh bangunan kafe bertingkat dua itu. Penindakan kafe itu harus dilakukan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, termasuk Pemerintahan Desa (Pemdes)," katanya.

Hal senada juga dikatakan Dyah, Perangkat Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, seluruh bangunan di bantaran sungai ini saat awal pembangunan, tidak ada yang memberitahukan kepada pihak desa.

"Kami juga belum tahu status tanah seluruh bangunan di bantaran Sungai Malang ini. Mereka membangun juga tanpa mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) yang prosesnya dari Pemdes,"pungkas Dyah.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved