Berita Trenggalek

Kasus Pasung di Trenggalek Turun Drastis 2 Tahun Terakhir

Pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Trenggalek, sepanjang 2 tahun terakhir terus berkurang. Berikut datanya...

Kasus Pasung di Trenggalek Turun Drastis 2 Tahun Terakhir
surabaya.tribunnews.com/didik mashudi
ilustrasi 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Trenggalek, sepanjang 2 tahun terakhir terus berkurang. 

Pada 2017, jumlah ODGJ yang dipasung pasung tercatat sebanyak 153 orang.

Data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Trenggalek, hingga April 2019 menunjukkan angka ODGJ pasung tinggal 4 orang.

Kepala Dinsos PPPA Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati mengatakan, berkurang drastisnya angka ODGJ pasung itu setelah tim penanganan kesejahteraan sosial turun tangan.

Para ODGJ pasung dibawa ke rumah sakit dan Puskesmas Karangnayar untuk dirawat. Setelah dinyatakan mampu mengontrol diri, beberapa dari mereka dikembalikan ke keluarganya.

“Hanya saja, yang menjadi masalah, setelah mereka kami bebaskan, kemudian kembalikan kekeluarganya, mereka ditolak. Kalaupun diterima, mereka dipasung lagi,” kata Ratna, Minggu (5/5/2019).

Untuk menangani kasus semacam itu, Dinsos PPPA bekerja sama dengan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Gunung Kebo untuk menerima ODGJ pasung yang ditolak keluarganya.

Menurut Ratna, ada sekitar 40 orang yang sempat tinggal di ponpes itu. Kebanyakan dari mereka akhirnya sudah dibawa pulang oleh keluarganya.

Saat ini, sekitar 16 ODGJ pasung yang sebelumnya telah dirawat di rumah sakit dan Puskesmas yang masih tinggal di sana. Dinsos PPPA mengklaim, 14 di antaranya sudah dalam kondisi normal. Targetnya, hingga akhir tahun ini, Kabupaten Trenggalek bebas pasung.

Untuk memberi kesibukan dan aktivitas bagi para mantan ODGJ pasung yang tinggal di sana, Dinsos PPPA dan ponpes menginisiasikan pembuatan bengkel kerja. Mereka diberi pelatihan, mulai dari pembibitan tanaman hingga pembuatan berbagai macam perkakas.

“Mereka harus diberi kesibukan supaya tidak jenuh. Dalam artian, mereka diajari sesuai dengan kemampuan mereka. Sebab, mereka dalam kondisi spikologis yang terganggu,” kata Ratna.

Tim penanganan kejahteraan sosial, lanjut dia, juga terus mengedukasi keluarga agar mau menerima dengan baik mantan ODGJ pasung. Sebab apabila mereka diasingkan, kondisi kejiwaannya bakal rentan kembali terganggu.

Saat ini, Pemkab Trenggalek tengah berupaya untuk mencari ponpes atau tempat lain serupa yang mau menerima bekas ODGJ pasung perempuan – yang ditolak keluarganya. Ini lantaran, Ponpes Gunung Kebo hanya menerima bekas ODGJ pasung laki-laki.

Plt Bupati Trenggalek, M Nur Arifin mengatakan, target Trenggalek bebas pasung pada 2019 menjadi salah satu prioritas Pemkab. Hal ini sejalan dengan program di tingkat nasional. Ia meminta kepada tim di lapangan untuk memberi pemahaman utuh kepada keluarga eks-ODGJ pasung. Ini supaya pemasungan kembali eks-ODGJ tidak terjadi.

Beberapa waktu lalu, ia dan staf dari Dinas Sosial PPPA beraudiensi dengan Ponpes Gunung Kebo.

"Kami sangat mengapresiasi kerja sama ini," tuturnya.

Penulis: Adi Sasono
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved