Berita Kampus Universitas Jember

3 Tuntutan Mahasiswa Universitas Jember Merespons Dugaan Kekerasan Seksual oleh Oknum Dosen

Dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember memicu ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi.

3 Tuntutan Mahasiswa Universitas Jember Merespons Dugaan Kekerasan Seksual oleh Oknum Dosen
surya.co.id/sri wahyunik
Suasana demo ratusan mahasiswa Universitas Jember merespons dugaan kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi oleh oknum dosen, Kamis (2/5/2019). 

SURYA.co.id | JEMBER - Dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember memicu ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi, Kamis (2/5/2019).

Aksi ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual itu digelar bersamaan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019.

Aliansi mahasiswa ini membawa tagline 'Unej Darurat Kekerasan Seksual'.

Aksi dimulai dengan berjalan kaki dari FIB. Para mahasiswa ini masing-masing mengalungi peluit di lehernya, berjalan berkeliling ke fakultas-fakultas di Unej.

Peluit itu sebagai simbol memberi peringatan kepada pihak Unej.

Pusat aksi dilakukan di depan gedung Rektorat Unej. Di gedung tersebut, aksi sempat diwarnai dengan saling dorong antara mahasiswa dan Satpam Unej. Aksi saling dorong terjadi beberapa kali. Mahasiswa meminta perwakilan yang menemui Rektor Unej untuk segera menemui para pendemo. Mahasiswa juga menuntut Rektor Unej M Hasan menemui mereka.

Aksi yang sempat memanas beberapa kali akhirnya bisa diredam setelah Rektor Unej menemui mereka.

Aliansi mahasiswa itu dalam siaran persnya menegaskan telah terjadi kasus kekerasan seksual di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej. Namun aliansi mahasiswa itu menilai Unej tidak memiliki prosedur penanganan kekerasan seksual.

"Aturan yang Unej rujuk untuk menangani kasus kekerasan seksual ialah Peraturan Pemerintah (PP) No.53 tahun 2010 tentang disiplin kepagawaian dan undang-undang (UU) Aparatur Sipil Negara. Kedua aturan tersebut hanya fokus pada pemberian sanksi pada dosen, tidak spesifik mengatur tentang penanganan kekerasan seksual," kata Korlap aksi, Trisna Dwi Y Aresta.

Akibatnya, lanjutnya, ketika ada kasus kekerasan seksual, Unej tidak memberi penanganan yang berpihak pada korban.

Halaman
123
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved