Berita Surabaya

Warga Surabaya Gelar Unjuk Rasa Pakai Atribut Baju Kebaya dan Blangkon di Pengadilan Negeri

Warga Surabaya Gelar Unjuk Rasa Pakai Atribut Baju Kebaya dan Blangkon di Pengadilan Negeri setempat

Warga Surabaya Gelar Unjuk Rasa Pakai Atribut Baju Kebaya dan Blangkon di Pengadilan Negeri
Surabaya.Tribunnews.com/Samsul Arifin
Warga Waduk Sepat, Surabaya gelar aksi di depan PN Surabaya kenakan kebaya dalam memperingati Hari Kartini, Senin, (22/4/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Puluhan warga Waduk Sepat, Lakarsantri Surabaya menggelar unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (22/4/2019). Peserta aksi wanita memakai kebaya dan yang pria mengenakan blangkon dan batik.

Aksi warga tersebut sekaligus memperingati Hari Kartini 2019. 

Mereka menolak dua warganya dikriminalisasi lantaran dianggap merusak plat penutup penahan waduk milik PT. Ciputra.

Meski terik panas menyengat, tak menutup semangat para demonstran menyuarakan penolakan dua warganya bernama Darno dan Dian Purnomo.

Sugito, warga asli Waduk Sepat dan juga koordinator dari massa aksi menekankan dalam peringatan Hari Kartini ini, para wanita warga Waduk Sepat untuk khususnya harus berani dalam menuntut haknya.

“Jangan hanya terima ‘mangguk-mangguk’, wanita warga Waduk Sepat harus mencontoh perjuangan dari Kartini,” teriak pria yang disapa Gito ini.

Bukan hanya kebetulan, lanjut Sugito, emak-emak warga Waduk sepat itu juga merupakan pejuang lingkungan yang memperjuangkan haknya berpuluh-puluh tahun.

“Jadi sesuai dengan semangat dari Ibu Kartini, jadi kami meminta dua warga kami Dian Purnomo dan Darno,” lanjutnya.

Gito meminta dalam sidang yang akan digelar Selasa, (23/4/2019) supaya mengganti hakim sebelumnya dengan hakim yang mengerti UU Lingkungan Hidup.

“Jangan hanya mementingkan kepentingan pengusaha biar sama-sama adil, kami berharap dua warga kami itu bebas. Semestinya, pemerintah dan hakim ini harus berterima kasih kepada dua warga ini karena dia abdi masyarakat. Jadi jangan semena-mena menangani Waduk Sepat,” pintanya.

“Saya mengerti betul siapa Pak Darno karena dia ini Pak RT, nggak mungkin lah dia memberikan contoh yang buruk kepada warganya, bahkan Pak Darno meminta warganya untuk tidak merusak apapun,” tambahnya.

Selain untuk kebaikan dari warga, Gito berdalih juga untuk kebaikan pihak Ciputra karena lokasinya berdekatan, lantaran proses Waduk Sepat masih dalam penanganan.

“Sejauh ini kan Ciputra kan mengklaim karena memiliki surat, dan itu tidak melibatkan warga. Yang salah siapa? Pemerintahnya, Pengusahanya atau warganya. Karena warga tidak tahu ada surat,” tandasnya.

Selama itu juga tidak pernah ada perhatian dari pemerintah kota, padahal waduk itu juga menjadi tempat wisata bagi warga setempat.

“Walikota pernah menanam pohon waktu itu, namun terkait kasus ini juga tidak ada perhatian, jadi tolong untuk diperhatikan,” pungkasnya.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved