Berita Ngawi

Kapolres Ngawi Minta Dishub Ikut Berperan Aktif Cegah Kecelakaan yang Melibatkan Bus

Kapolres Ngawi Minta Dishub Ikut Berperan Aktif Cegah Kecelakaan yang Melibatkan Bus

Kapolres Ngawi Minta Dishub Ikut Berperan Aktif Cegah Kecelakaan yang Melibatkan Bus
surabaya.tribunnews.com/Rahardian Bagus
Bus Sugeng Rahayu berpelat nomor W 7197 UZ jurusan Solo-Surabaya terbalik setelah gagal menyalip truk di Jalan Raya Ngawi-Mantingan KM 20-21, Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Selasa (9/4/2019).    

Kapolres Ngawi Minta Dishub Ikut Berperan Aktif Cegah Kecelakaan yang Melibatkan Bus

SURYA.co.id|NGAWI - Dalam dua pekan terakhir, terjadi tiga kecelakaan melibatkan Bus Sugeng Rahayu. Dua kecelakaan terjadi di Jalan Raya Ngawi-Madiun, Kabupaten Ngawi, dan terakhir kecelakaan terjadi di Jalan Raya  Solo-Jiwan, Kabupaten Madiun.

Dalam tiga peristiwa kecelakaan tunggal itu, terdata ada dua penumpang meninggal dunia dan 30 korban luka-luka.

Peristiwa pertama, Sugeng Rahayu berpelat nomor W 7094 UZ jurusan Surabaya-Yogyakarta terjun ke Sungai Sidowayah, Kabupaten Ngawi, pada Rabu (3/4/2019). Dalam kecelakaan itu, dua orang penumpang meninggal dunia dan 14 orang lainnya luka-luka.

Kemudian peristiwa kedua, bus Sugeng Rahayu berpelat nomor W 7197 UZ jurusan Solo-Surabaya gagal menyalip truk di Jalan Raya Ngawi-Mantingan KM 20-21, Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Selasa (9/4/2019). Bus berpenumpang 60 orang itu terbalik dan membuat 13 orang luka-luka.

Terakhir, pada Kamis (11/4/2019) Bus Sugeng Rahayu bernopol W 7079 UZ menabrak median jalan di Jalan Raya Solo, Desa/Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, kemudian berhenti setelah menabrak pohon di depan makam. Dalam peristiwa itu, sopir dan dua orang mengalami luka-luka.

Kapolres Ngawi, AKBP Pranatal Hutajulu, mengaku prihatin dengan kecelakaan bus yang terjadi secara beruntun dalam dua pekan terakhir ini. 

Dia mengatakan, kecelakaan lalu lintas di jalan raya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian saja, tetapi juga Dinas Perhubungan dan seluruh masyarakat.

"Jadi, dalam kasus kecelakaan lalu-lintas, khusunya yang dilakukan bus, perlu peran lebih aktif, Dinas Perhubungan. Karena kita sudah kerap melakukan penertiban dan penilangan, tapi itu tidak terlalu memberi efek jera," katanya saat dihubungi, Jumat (12/4/2019).

Dia menuturkan sopir bus terpaksa mengemudikan bus dengan kecepatan yang sangat tinggi, karena mereka ditarget setoran oleh perusahaan bus. Oleh sebab itu, Kapolres meminta perusahaan agar mengevaluasi sistem kejar setoran yang diterapkan perusahaan otobus (PO).

"Perusahaan bus selalu menekan sopir untuk kejar setoran. Akhirnya sopir bagaima caranya mencapai target setoran, harus kencang, ngebut di jalan ugal-ugalan, seharusnya dalam setiap kasus kecelakaan itu, dinas perhubungan aktif, langsung mengkaji, mengevaluasi, kalau perlu cabut izin trayeknya," tegasnya.

Ia menuturkan, cara kerja sopir tergantung perusahaan. Apabila sopir diberikan waktu yang cukup untuk jalan dengan tenang tanpa dibebani target setoran, sopir tidak akan kebut-kebutan.

Pranatal menambahkan, selama ini Polres Ngawi selalu mengirim surat tembusan ke Dinas Perhubungan, setiap kali ada kecelakaan. Namun, selama ini tidak ada tindak lanjutnya.

"Kami sudah berkirim surat, setiap ada kasus kecelakaan, kita tembuskan kepada mereka, nggak tahu, nggak ada tindak lanjutnya. Yang mengeluarkan izin kan Dinas Pehubungan Provinsi," tambahnya. 

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved