Berita Sumenep

Belasan Puskesmas Belum Punya IPAL, Begini Alasan Dinkes Sumenep

Belasan puskesmas di Sumenep belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL

TribunMadura.com/Ali Hafidz Syahbana
Seorang pengendara melintas di depan Puskesmas Rubaru Sumenep, Selasa (9/4/2019). 

SURYA.co.id | SUMENEP - Belasan puskesmas di Sumenep belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Selasa (9/4/2019). Dari 30 puskesmas yang ada, baru 18 instansi saja yang memiliki IPAL.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, dr Fatoni, mengakui memang IPAL itu seharusnya ada di tiap puskesmas. Namun, pihaknya beralasan kendalanya dana operasional untuk IPAL yang sangat tinggi menjadikan 12 puskesmas di Sumenep belum memiliki IPAL tersebut.

"Kalau rumah sakit besar di Sumenep itu sudah punya IPAL semua. Tapi kalau dari 30 puskesmas yang ada IPAL itu hanya 18 Puskesmas. Puskesmas yang besar-besar itu seperti Puskesmas Gapura dan Bluto," kata Fatoni pada TribunMadura.com. Selasa, (9/4/2019).

Untuk memiliki IPAL di puskesmas, Fatoni menyebut kerap timbul kendala. Di antaranya, mulai dari pabrik dan penggarapannya itu sering ada kendala.

"Kemarin ada lima Puskesmas yang sudah putus kontrak, akibatnya IPAL itu tidak bisa digunakan. Kenapa sampai putus kontrak, karena pekerjaan yang harus diselesaikan itu tidak mampu menyelesaikan. Akhirnya mangkrak sekarang," ungkapnya.

Sementara untuk harganya kata dia sangat mahal, satu unit sekitar Rp 500 juta, terus operasional dan pakai listrik itu wattnya tinggi.

"Itupun sebenarnya itu tidak betul-betul tidak aman. Karena yang diolah itu hanya kencing, cairan air kotoran limbah lab," paparnya.

Sebagai alternatif, kata mantan Kepala Puskesmas Kecamatan Ambunten itu, puskesmas disarankan untuk membuat sumur resapan yang banyak.

"Saya ketika di Puskesmas Ambunten dulu menggunakan itu (sumur resapan) aman kok," terangnya.

Sementara untuk limbah kesehatan yang lain, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup. Limbah tersebut dimusnahkan di TPA Batuan, termasuk limbah kesehatan yang ada di daratan dan dari kepulauan.

"Kalau seperti jarum suntik itu kita bekerja sama dengan DLH, jadi dimusnahkan menjadi debu," katanya.

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved