Berita Mojokerto

Politisi DPRD Kabupaten Mojokerto Diduga Lakukan Penipuan Bermodus CPNS. Korban Rugi Puluhan Juta

Seorang politisi DPRD Kabupaten Mojokerto dipolisikan karena diduga melakukan penipuan bermodus CPNS. Korbannya rugi puluhan juta Rupiah,.

Politisi DPRD Kabupaten Mojokerto Diduga Lakukan Penipuan Bermodus CPNS. Korban Rugi Puluhan Juta
surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana
Siti Khoiyumi (52) menunjukkan kwitansi pembayaran sekaligus pembayaran yang tidak ditanda tangani anggota DPRD Kabupaten Mojokerto berinisial AR, Senin (8/4) 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Mudji Rokhmat, warga dusun Pandan Sili, Desa Wonorejo, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, melaporkan seorang politisi anggota DPRD Kabupaten Mojokerto ke polisi. 

Mudji melaporkan politisi berinisial AR Itu karena merasa ditipu puluhan juta Rupiah. 

Dia menceritakan, pada 2015 silam, AR menjanjikan bisa membantu Mudji memasukkan anaknya menjadi PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. 

Namun, hingga saat ini janji itu belum terealisasi. Padahal, dirinya telah menyerahkan uang puluhan juta kepada AR tahun 2015 silam.  Mudji pun resah.

"Mulanya saya mau minta tolong untuk mencarikan kerjaan untuk anak saya. Setelah itu saya diminta untuk menyerahkan uang. Lantas istri saya menyerahkan uang sebesar Rp 65 juta," kata Mudji saat ditemui di rumahnya, Senin (8/4).

Mudji menerangkan, dirinya tak tinggal diam atas ketidak pastian janji yang diberikan AR. Beberapa kali Mudji menagih janji itu ke AR.

"Saat saya menagih janji, dia hanya bilang diusahakan, sabar. Selain itu, tidak ada upaya mengembalikan uang. Seakan-akan dirinya tidak merasa. Anggota Dewan kok sikapnya seperti itu," sesalnya.

Tak hanya Mudji, salah satu warga Desa, Beloh, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Siti Khoiyumi (52) juga menjadi korban janji manis AR. Serupa dengan Mudji, AR menjanjikan Siti bisa memasukkan anaknya yang bernama, Ahmas Muzaki (24) menjadi PNS.

"Awalnya Istrinya bilang Suaminya bisa mencarikan kerjaan untuk saya. Banyak yg sudah dicarikan juga katanya. Kemudian saya meminta untuk dicarikan. Selanjutnya dia menawarkan nanti anak saya bisa bekerja di pabrik atau PNS. Kemudian pertemuan kedua, Dia bilang ini ada lowongan PNS di Kecamatan Jatirejo dan Trowulan. Saya pun mengiyakan," ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Namun, lanjut Siti, agar anaknya busa masuk menjadi PNS di Kecamatan Jatirejo dan Trowulan, dirinya harus menyerahkan uang Rp 70 juta. Siti pun tak keberatan dengan syarat tersebut.

"Saya lantas menyerahkan uang itu langsung ke AR. Saya menyerahkan uang Rp 70 juta 4 Maret 2018," ucapnya.

Siti mengungkapkan, AR berjanji setelah Pemilihan Gubernur Jawa Timur, anaknya sudah menyandang status PNS. Namun, setahun berselang janji tersebut tak terealisasi.

"Saya sudah menagih langsung ke AR, tetapi dia hanya bilang sabar. Beberapa bulan kemarin ada rekrutmen CPNS, saya kembali menagih janji, tetapi lagi-lagi dia hanya bilang sabar, kalau tidak sabar nanti anak saya penempatannya bisa di luar pulau," paparnya.

Tak hanya itu, saat awal menyerahkan uang Rp 70 juta sebenarnya Siti sudah menaruh kecurigaan. Sebab, AR tak ingin menandatangani kwitansi pembayaran sekaligus perjanjian.

"Jelas saya merasa tertipu. Kalau orang baik, dia mau menandatangani kwitansi. Bila tak sanggup mencarikan pekerjaan, saya berharap uang tersebut dikembalikan. Sebenarnya, walaupun tidak jadi PNS yang terpenting anak saya kerja. Setiap orang tua kan ingin anaknya mendapat pekerjaan yang layak dan baik," pungkasnya.

Tanggapan Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto yang Diduga Melakukan Penipuan Bermodus CPNS

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved