Berita Malang Raya

Bungkus Mie Berusia 19 tahun di Sendangbiru Malang Viral, Ini Alasan Sampah Plastik Sulit Hancur

Foto bungkus mie instan berusia 19 tahun yang ditemukan di Pantai Sendangbiru wilayah selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur mendadak menjadi viral

Bungkus Mie Berusia 19 tahun di Sendangbiru Malang Viral, Ini Alasan Sampah Plastik Sulit Hancur
Kolase twitter dan KOMPAS.com/Nabilla Tashandra
Bungkus Mie Berusia 19 tahun di Sendangbiru Malang Viral 

Setelah tertelan, plastik itu tidak akan tercerna, malah hanya menyebabkan pencernaan binatang tersebut terganggu hingga akhirnya mati.

Hal ini sama seperti yang dialami seekor paus sperma yang mati terdampar di Pantai Wakatobi dengan sampah plastik ditemukan di dalam perutnya.

Inilah yang kemudian menjadi masalah selanjutnya, plastik yang sudah membunuh nyawa bahkan masih tetap ada dan bisa dikonsumsi oleh hewan lainnya.

Berdasarkan video pendek Tech Insider, diketahui beberapa jenis sampah membutuhkan waktu berbeda-beda untuk akhirnya dapat busuk dan terurai menjadi tanah.

Misalnya kulit pisang yang dibuang sembarangan, ternyata baru bisa membusuk setelah dua hingga lima minggu.

Kemudian pokok buah apel yang tidak dimakan, baru bisa terurai setelah dua bulan dibuang.

Padahal kulit pisang dan pokok buah apel masih tergolong sampah organik.

Lalu bagaimana dengan sampah-sampah non-organik yang kita produksi setiap harinya? Kertas koran perlu waktu sampai enam minggu untuk terurai.

Kemudian, kotak susu baru bisa terurai setelah tiga bulan pembuangan.

Selanjutnya, batang rokok yang dibuang baru akan terurai setelah satu-lima tahun pembuangan, setiap tahunnya terdapat lebih dari 5,5 triliun batang rokok di seluruh dunia.

Berlanjut ke kantung plastik yang biasa kita gunakan saat berbelanja, mereka membutuhkan waktu 10-20 tahun untuk akhirnya terurai menjadi tanah.

Lebih parah lagi, gelas atau piring berbahan styrofoam yang biasa digunakan untuk membungkus makanan dan minuman, baru bisa hancur setelah 50 tahun.

Lama waktu pembusukan yang sama juga diperlukan oleh sabuk yang terbuat dari kulit yang melalui proses kimia.

Lebih dari semua itu adalah botol minuman bersoda yang terbuat dari bahan aluminium, mereka baru akan hancur setelah 200 tahun, sekitar tiga generasi manusia.

Tidak hanya itu, diapers yang hari ini banyak digunakan untuk bayi dan lansia, baru akan hancur setelah 450 tahun, hampir setengah abad untuk satu sampah diapers.

Botol minuman plastik juga butuh waktu yang sama dengan diapers, 450 tahun.

Di tingkat selanjutnya, adalah botol kaca, seperti botol sirup, saus, selai, dan sebagainya baru hancur setelah 1 juta tahun.

Adapun waktu yang tertulis di atas adalah dalam keadaan tanah yang normal.

Jika sampah itu berada di antara tumpukan sampah yang lain, maka waktu yang dibutuhkan tentu akan berbeda, karena adanya perbedaan cahaya, oksigen tekanan, dan sebagainya.

Kunjungan Wisata Menurun di Malang Selatan

Isu hoax mengenai tsunami dan gempa bumi di pesisir pantai Malang Selatan turut mempengaruhi kunjungan wisata.

Tak terkecuali kunjungan wisatawan ke Pantai Balekambang, Malang selatan.

Pengelola Pantai Balekambang menyesalkan adanya isu tersebut, dan dengan tegas menyebut itu kabar hoax.

Kepala UPT Balekambang PD Jasa Yasa, Yasdi menjelaskan jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Balekambang saat ini menurun drastis hingga lebih dari 50 persen.

Yasdi berharap agar masyarakat tidak enggan berwisata ke pantai.

"Pantai Balekambang sedang baik-baik saja," terang Kepala UPT Balekambang PD Jasa Yasa, Yasdi ketika dikonfirmasi, Rabu (6/3/2019).

Yasdi memastikan, pihaknya terus berinovasi agar ritme kunjungan di pantai yang memiliki Pura Amarta Jati itu, terus meningkat.

“Upaya kami tetap yakni tetap meningkatkan kunjungan wisata. Salah satunya adalah dengan menambah spot selfie di area pantai.

Di antaranya, spot selfie Lawang Segoro dan ada juga gazebo yang sudah kami sediakan untuk pengunjung maupun wisatawan," imbuh Yasdi.

Selain spot foto tersebut, pengelola Pantai Balekambang menpercantik pantai dengan spot foto penunjuk arah.

Yasdi juga menjamin keamanan pantai yang berlokasi di Kecamatan Bantur ini tetap aman bagi para pengunjung.

"Kepada para pengujung kami selalu berikan rasa aman.

Tim rescue juga ada, kami juga sudah bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Malang.

Di titik batas rawan ombak tinggi juga sudah kami kasih rambu bahaya. Jalur evakuasi juga sudah kami pasang rambu-rambu dan tempatnya," jelas Yasdi. (Andi Hartik/kompas.com/Erwin Wicaksono)

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Musahadah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved