Berita Surabaya

Penjelasan Dispendukcapil Surabaya atas Pertanyaan Istri Ekspatriat terkait Proses Pemakaman Suami 

Penjelasan Dispendukcapil Kota Surabaya atas pertanyaan istri ekspatriat terkait proses pemakaman suami di Surabaya.

Penjelasan Dispendukcapil Surabaya atas Pertanyaan Istri Ekspatriat terkait Proses Pemakaman Suami 
SURYAOnline/nuraini faiq
Ketua Dewan Pengurus Pusat Koordiantor Perkawinan Campuran (Perca) Melva Nababan saat menerima cindera mata dari Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya Barlian, di Hotel JW Marriot, Selasa (2/4/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Seluruh istri ekspatriat yang tinggal di Surabaya dan sekitarnya mengikuti sosialisasi keimigrasian, kependudukan, ketenagakerjaan dan kewarganegaraan terkait perkawinan percampuran (Perca) di Hotel JW Marriot, Senin (2/4/2019).  Banyak masalah menghinggapi suami WNA ini. 

Mulai dari mereka harus mencatatkan perkawinan mereka di Catatan Sipil hingga mereka harus berpikir bagaimana cara mengurus jika suami sampai meninggal di Indonesia.

"Bagaimana pemakaman  suami saya nanti," ucap Erni, istri ekspatriat.

Sosialisasi masalah kewarganegaraan terkait perkawinan campuran digelar oleh Organisasi Perca bersama Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya.

Hadir dalam sosialisasi ini Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkumham Jatim, Zakaria. Kemudian Kepala Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Surabaya Barlian. 

Acara sosialisasi dipandu Ketua Dewan Pengurus Perca Indonesia Malven Nababan itu menghadirkan perwakilan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya serta Dinas Tenaga Kerja Jatim. 

Malven mengakui banyak persoalan pelik bermunculan saat perkawinan dua kewarganegaraan terjadi. Saat pisah atau suami asing meninggal, harta gono gini yang dibeli di Indonesia WNA tak boleh memiliki harta. Mulai dari rumah atau tanah. 

Belum lagi harus mengurus sejumlah dokumen kependudukan. Urus akta kelahiran hingga mengurus kewarganegaraan anak mereka saat berusia 18 tahun. 

Anak yang dilahirkan dari perkawinan dua kewarganegaraan saat usia 18 tahun wajib menentukan menjadi warga negara suami asing atau tetap menjadi WNI seperti sang ibu.

"Kebanyakan ikut kewarganegaraan suami. Namun harus mau sedikit ribet," kata Malven.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved