Liputan Khusus

Pusat Pengolahan Limbah Resahkan Warga Cendoro Dawarblandong Mojokerto

Lahan di sana menjadi mata pencaharian utama banyak warga, mereka juga khawatir dampak panjang dari adanya pusat pengolahan itu.

Pusat Pengolahan Limbah Resahkan Warga Cendoro Dawarblandong Mojokerto
surya.co.id/aflahul abidin
Lokasi pembangunan tahap awal PPSLI B3 di Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto, pekan lalu. 

“Ya, belum tahu nanti bagaimana. Lihat saja. Tapi mau bagaimana lagi, ini memang lahan punya Perhutani,” tambah dia.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Cendoro, Jaelani mengatakan, dari total 132 warga yang mengelola lahan Perhutani, 70 persennya menggantungkan hidup dari bercocok tanam di tegalan tersebut.

Lahan 40 hektare (ha) yang dikelola warga itu ditanami jagung, cabai, dan kadang kedelai. Tergantung musim.

Dalam dua tahun terakhir, berdasarkan kesepakatan bersama, warga yang menggarap lahan Perhutani membayar Rp 600.000 per hektare.

“Paling banyak yang memanfaatkan dari Dusun Cendoro, ada sekitar 90 orang. Sisanya gabungan dari warga dusun lain,” ujar Jaelani. Tiga dusun itu, Bakung, Pelem, dan Sidomengko.

Anggota LMDH Cendoro, kata Jaelani, sepakat untuk menolak rencana pembangunan LPSLI.

Tak sekadar karena lahan di sana menjadi mata pencaharian utama banyak warga, mereka juga khawatir dampak panjang dari adanya pusat pengolahan itu.

“Takut waduknya tercemar. Padahal waduk itu untuk pertanian di sini,” ungkapnya.

Waduk yang Jaelani maksud berada tepat berbatasan dengan lokasi rencana pengolahan limbah. Luasnya sekitar 6 hektare.

Tukani, Asisten Perhutani atau Kepala BKPH Kemlagi, menjelaskan, tidak tahu detail soal rencana pembangunan LPSLI di lahan wilayahnya.

Halaman
123
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved