Berita Kediri

Prof DR dr Nancy Margareta: Dampak Revolusi Industri Perguruan Tinggi Bersifat Interdisipliner

Prof DR dr Nancy Margareta: Namun revolusi industri 4.0 tidak menghilangkan faktor manusia dan faktor humanisme

Prof DR dr Nancy Margareta: Dampak Revolusi Industri Perguruan Tinggi Bersifat Interdisipliner
SURYA.co.id/Didik Mashudi
Seminar kesehatan yang menghadirkan nara sumber Prof Dr dr Nancy Margareta di Gedung Adipatma Kampus IIK Bhakti Wiyata, Kota Kediri, Sabtu (30/3/2019). 

SURYA.co.id | KEDIRI - Dampak revolusi industri 4.0 pada perguruan tinggi akan mengubah perguruan tinggi dan pendidikan tinggi menjadi institusi yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dengan cara baru.

"Pendidikan pasti berubah, demikian pula dengan penelitian bahkan pengabdian masyarakat," ungkap Prof DR dr Nancy Margareta konsultan intensif care pada seminar kesehatan di Gedung Adipatma, Kampus Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata, Sabtu (30/3/2019).

Dicontohkan, pengabdian masyarakat bisa melakukan pemeriksaan pasien jarak jauh lewat teknologi dengan pemeriksaan suara dan detak jantung.

"Meski berjauhan dokter dapat melakukan pelayanan kepada masyarakat," jelasnya.

Selain itu dampak revolusi industri, perguruan tinggi akan lebih bersifat interdisipliner. Memiliki ruang kelas dan laboratorium virtual, perpustakaan dan staf pengajar virtual tetapi tidak menimbulkan degradasi pendidikan, melainkan lebih mengembangkan pengalaman belajar mengajar.

Sehingga mahasiswa kedokteran tidak hanya belajar tentang kedokteran saja, namun juga belajar aspek sosial, psikologi termasuk ekonomi yang menjadi satu kesatuan yang membuat pengetahuan dokter lengkap.

"Sekarang ada pembelajaran health ekonomi seperti BPJS dan JKN merupakan aspek ekonomi dari kesehatan. Dulu prodi kedokteran tidak ada topik ini, sekarang telah dimasukkan," jelasnya.

Termasuk manajemen kesehatan yang menyiapkan kemampuan dokter. Sehingga jika dokter ke daerah tidak bingung dengan masalah BPJS dan JKN.

"Sehingga pendidikan dokter harus menjadi terintegrasi dengan masalah ekonomi. Mau tidak mau seorang dokter harus tahu masalah ekonomi termasuk leadership," tambahnya.

Sedangkan pelayanan kesehatan juga berubah menjadi precision medicine. Dengan peralatan yang menghitung komputer dapat mengetahui jenis penyakitnya dan dosis obatnya.

Namun revolusi industri 4.0 tidak menghilangkan faktor manusia dan faktor humanisme.

"Ada hal-hal yang tidak bisa digantikan robot, tapi sekarang sudah bergerak ke arah precision medicine," jelasnya.

Dengan alat precision medicine yang ditempelkan di tubuh dapat diketahui dosis obat yang harus diberikan. Namun harus ada general education supaya aspek humanisme tetap terpelihara.

Penulis: Didik Mashudi
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved