Berita Surabaya

Unusa Gelar Hari Down Syndrome se-Dunia, Edukasi Orangtua dan Hapus Stigma Negatif

peringatan Hari Down Syndrome yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) di Royal Plaza, Sabtu (16/3/2019)

Unusa Gelar Hari Down Syndrome se-Dunia, Edukasi Orangtua dan Hapus Stigma Negatif
surya/sulvi sofiana
Anak-anak down syndrome saat membuat kerajinan sambil menunggu orangtua mereka mengikuti talkshow yang diadakan Unusa di Royal Plasa, Sabtu (16/3/2019) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Peringatan Hari Down Syndrome sedunia menjadi kesempatan orangtua untuk mendapat lebih banyak pengetahuan tentang kondisi anak down syndrome. Hal ini diungkapkan Tri Rahayu, warga Dinoyo yang hadir dalam peringatan Down Syndrom yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) di Royal Plaza, Sabtu (16/3/2019).

Menurut Tri momen peringatan seperti ini menjadi kesempatannya menambah ilmu dalam mengasuh anak pertamanya yang menderita down syndrome.

"Acara ini juga melibatkan anak-anak untuk bermain membuat kerajinan. Jadinya saya bisa dapat ilmu, anak juga bisa bermain sambil dapat pengalaman,"urai ibu dua anak ini.

Bagi Tri, masih banyak yang harus ia pelajari dan persiapkan untuk pendidikan anaknya. Pasalnya saat ini anaknya masih sekolah di Muslim Day Care meskipun sudah berusia sembilan tahun.

"Kalau kampus yang mengadakan talkshow biasanya yang datang profesional dan pasti sangat membantu kami para orang tua,"urainya.

Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie mengungkapkan acara ini diadakan untuk memberikan edukasi pada orangtua agar lebih perhatian pada anak berkebutuhan khusus (ABK).

"Dengan diadakan di area publik kami berharap juga bisa menghapuskan stigma negatif yang biasanya melekat pada anak down syndrome," imbuh Jazidie.

Dengan mendatangkan narasumber dari Kemendikbud, ia berharap dapat memberikan pengetahuan pada orang tua langsung dari profesional terkait pendidikan bagi ABK.

"Pendidikan juga sangat penting dan perlu, tapi saat ini masih dirasa sangat kurang. Karena masyarakat perlu terus di dorong untuk ikut berkembang dan berusaha untuk memberikan pendidikan yang layak pada anak down syndrom,"pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penilaian Direktoran PemBinaan Pendidikan Khusus Kemendikbud, Ngadirin mengungkapkan pemerintah saat ini terus mendorong agar tersedia pendidikan bagi ABK di setiap kota dan kabupaten.

Pasalnya dari 28.317 lembaga lembaga pendidikan di tingkat SD,SMP hingga SMK baru 12 persen yang bisa menerima ABK.

"Kami mengkondisikan agar ABK menjadi bagian dalam pendidikan. Tapi banyak lembaga pendidikan tidak siap menanganai ABK karena minimnya fasilitas dan tenaga pengajarnya,"ujarnya.

Pihaknya terus memberikan stimulus pada sekolah untuk menyiapkan guru pendamping khusus. Terutama stimulus dalam hal kebijakan, agar sekolah tidak.merasa ABK sebagai beban teapi menjadi kewajiban.

"Kebijakan Zonasi kemdikbud ini akan menjadi pendukung agar anak ABK harus diterima di sekolah reguler. Setiap kabupaten harus punya unit layanan untuk anak ABK mendapat pendidikan,"pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved