Berita Surabaya

Sambal DD1 Susilaningsih di Tenggilis Surabaya, Disukai di AS Karena Tanpa MSG

Kini Susi bahagia bisa memperkerjakan 28 karyawan, dan menjalankan bisnis Sambal DD1 dengan sistem beli putus.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: irwan sy
surya/pipit maulidiya
Produk Sambal DD1 atau Dede Satoe buatan Susilaningsih (64), warga Jalan Tenggilis Timur VI/DD-1, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Jika kebanyakan orang kini berlomba membuat berbagai merek sambal ikan, Susilaningsih, owner Sambal DD1 atau Dede Satoe di Tenggilis Surabaya, fokus mempertahankan kualitas produknya. Bukan hal mudah, menurut Susi perlu konsisten dan fokus penuh untuk mendapatkan kualitas terbaik.

"Saya sudah punya distributor cabai, sengaja saya cari yang jujur dan tahu kemauan saya. Jadi dia sudah paham, saya mau cabai yang seperti apa. Kalau jelek, saya akan cari yang lain sekalipun harganya lebih tinggi," kata Susi.

Soal sortir bahan-bahan, Susi paling jeli. Dia tak mau ada satu pun cabai atau bahan-bahan lainnya yang busuk ataupun setengah busuk sekalipun.

"Cabai yang sudah kecoklatan nggak boleh masuk. Jadi benar-benar bahan-bahan fresh. Kalau tidak begitu akan mempengaruhi rasa, warna juga. Jadi Sambal DD1 itu nggak pakai MSG atau pewarna makanan, itu pewarna alami hasil pertanian," terang Susi.

Inspirasi Usaha Sambal DD1 Susilaningsih di Tenggilis Surabaya, Modal Rp 50 Ribu Kini Ekspor ke AS

Satu lagi lanjutnya, bahan pengawet yang ada di dalam sambalnya bahkan di bawah 1 per mil, atau di bawah standart yang ditetapkan.

"Makanya kami bisa diterima di Amerika itu, karena kami mementingkan kualitas. Bahkan sampai tes PH sambal dan air yang kami digunakan," tambahnya.

Susi mengatakan tak hanya bahan baku seeprti cabai, bawang merah, bawang putih, air, tapi juga ikan dan gula merah yang dia gunakan pun tak boleh mengandung borak dan formalin.

"Soalnya yang dipasaran itu kami selalu temui, jadi kami mengolah ikan klotok sampai gula merah itu benar-benar bebas dari borak dan formalin. Kami lakukan tes juga. Jadi sampai seperti itu, kualitas dan produksi kami perhatikan betul," tegasnya.

Ditanya soal persaingan sambal yang kian banyak penjual, Susi mengaku menyadari hal itu.

Terlebih merek-merek baru yang terus bermunculan dengan inovasi berbagai macam sambal.

Namun perempuan berkerudung ini tak goyah, baginya yang paling penting adalah menjaga kualitas produknya.

Mengingat masih banyak mimpi yang ingin dicapainya di tahun-tahun yang akan datang.

Susilaningsih (64), warga Jalan Tenggilis Timur VI/DD-1, Surabaya, menunjukan produk sambal merk DD1 atau Dede Satoe buatannya
Susilaningsih (64), warga Jalan Tenggilis Timur VI/DD-1, Surabaya, menunjukan produk sambal merk DD1 atau Dede Satoe buatannya (surya/pipit maulidiya)

"Karena saya pasar nasional, saya sadar kompetitior luar biasa. Saya nggak mau mengembangan sambal jenis ikan lagi, karena mau go internasional. Ingin masuk ke pasar Korea, Jepang, karena mereka sangat protect sekali dengan produk ikan-ikanan sementara saya sendiri belum mampu memenuhi standart yang diberikan. Saya juga ingin tembus timur tengah," katanya mengungkapkan mimpi Sambal DD1.

Standart ekspor soal ikan lanjut Susi sangat ketat, salah satunya adalah harus menyertakan sertifikat di mana asal ikan didapatkan, serta jenis ikan apa yang digunakan dalam bahasa Internasional.

Kini Susi bahagia bisa memperkerjakan 28 karyawan, dan menjalankan bisnis Sambal DD1 dengan sistem beli putus.

Susi menitipkan pesan untuk UMKM di luar sana yang sedang menitih tangga kesuksesan.

Baginya apapun produk UMKMnya, tak harus sambal, harus dijalankan dengan fokus.

"Apapun, kalau suka masak ya bikin masakan. Kalau handycaft ya bikin kerajinan. Nggak harus makanan, kalau dilakukan dengan konsentrasi dan fokus pasti bisa sukses," tutupnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved