Berita Lumajang

Penjelasan Polisi terkait Perusakan Patung di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Lumajang

Jajaran Polres Lumajang dan Polsek Senduro merespons perusakan patung di Kecamatan Senduro.

Penjelasan Polisi terkait Perusakan Patung di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Lumajang
Surabaya.Tribunnews.com/Sri Wahyunik
Kapolres Lumajang AKBP M Arsal Sahban 

SURYA.co.id | LUMAJANG - Jajaran Polres Lumajang dan Polsek Senduro merespons perusakan patung di Kecamatan Senduro. Perusakan patung itu ramai di media sosial beberapa hari terakhir, dan disebutkan sebagai perusakan simbol agama Hindu.

Setelah melakukan penelusuran, polisi mendapati jika patung yang dirusak bukanlah patung yang berada di Pura Mandhara Giri Semeru Agung di Desa/Kecamatan Senduro, Lumajang.

Patung yang dirusak merupakan Patung Padmasari yang berada di pinggir jalan Desa Argosari Kecamatan Senduro.

Ada tiga patung yang dirusak. Ketiga patung itu berada di dekat Jembatan Jurang Gedok Jl Desa Argosari, di tikungan Jl Desa Argosari, dan di Simpang Tiga Bakalan Jl Desa Argosari, semuanya di Kecamatan Senduro. Letak desa ini dengan letak Pura Mandhara Giri Semeru Agung juga terbilang jauh, masih belasan kilometer.

Dalam rilis yang dibuat oleh Polres Lumajang, Kapolres Lumajang AKBP M Arsal Sahban menegaskan, perusakan itu tidak ada kaitannya dengan unsur SARA.

“Secara tegas saya katakan tak ada keterkaitan dengan unsur SARA. Saya sangat mengimbau kepada umat Hindu untuk menahan diri dan tak terprovokasi atas kejadian ini karena memang hanya dilakukan oleh orang iseng saja. Selain itu meskipun agama Hindu adalah agama minoritas di Kecamatan Senduro, nyatanya tak pernah ada penolakan kegiatan peribadatan selama ini,” tegas Arsal dalam rilis yang diterima Surya, Selasa (4/3/2019).

Lebih lanjut Arsal menegaskan pihaknya akan menelusuri dan menyelidiki perusakan itu. Dirinya juga tidak ingin kasus itu dipelintir oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

“Saya berjanji untuk berusaha mengungkap pelaku perusakan Patung Padmasari yang berada di pinggir jalan Desa Argosari ini. Saya tidak ingin masalah ini dipelintir oleh orang-orang tak bertanggungjawab,” tegas Arsal.

Senada dengan Kapolres Lumajang, Kepala Desa Argosari Ismail mengatakan tidak ada permasalahan antar warganya yang berbeda keyakinan. “Ini adalah ulah orang iseng. Warga saya tidak pernah berseberangan masalah kegiatan umat Hindu di wilayah Senduro. Saya sebagai Kepala Desa akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Segera akan kami perbaiki kembali bersama masyarakat Argosari,” ungkapnya.

Selain itu, pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lumajang juga menyatakan bahwa umat Hindu di Lumajang akan bersabar dan menahan diri serta melimpahkan segala urusan ke pihak yang lebih berwenang. “Ini bukanlah sebuah penolakan terhadap kegiatan peribadatan umat Hindu. Saya yakin ini adalah orang iseng semata, kami tidak pernah berkonflik dengan masyarakat Argosari selama ini. Kami juga sudah berkomunikasi langsung dengan Kepala Desa Argosari dan Kapolsek Senduro,” ujar Edy Sumianto, Ketua PHDI Lumajang.

Dalam foto yang disertakan di rilis POlres Lumajang, terlihat patung yang rusak berada di tepi jalan. Bagian atas Patung Padmasari tidak ada dan roboh tergeletak di samping badan patung yang masih berdiri. Pagar bambu di sekitar patung juga ada yang ambruk.

Desa Argosari merupakan salah satu desa di Kecamatan Senduro yang berada di lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Sejumlah masyarakat Hindu Tengger hidup di desa tersebut. Karenanya, di sejumlah titik di desa itu bisa ditemukan Patung Padmasari.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved