Berita Gresik
Terancam Rusak, Pewaris Arsip Sejarah Pendiri NU di Gresik akan Lakukan Hal ini
Arsip sejarah pendiri NU di rumah milik almarhum KH Umar Burhan Kabupaten Gresik akan diduplikat.
SURYA.co.id | GRESIK - Arsip sejarah pendiri NU di rumah milik almarhum KH Umar Burhan Kabupaten Gresik akan diduplikat. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan arsip agar tidak rusak.
Mendukung proses publikasi agar dokumen penting ormas Islam terbesar di Indonesia itu dapat mudah diakses kedepannya.
Selama ini arsip sejarah NU berada di Jalan Nyai Ageng Arem nomor 35, Kecamatan Gresik Kota, Kabupaten Gresik dan tidak pernah sedikitpun beranjak keluar.
Dokumen-dokumen bersejarah pada masa-masa awal berdirinya NU, terutama terkait surat atau tulisan-tulisan tangan dan kumpulan pidato yang disampaikan oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari lengkap dan tersimpan rapi di dalam dua lemari kaca yang cukup besar.
Sejumlah kitab-kitab kuning abad pertengahan yang menjadi rujukan para ulama NU zaman dulu, serta surat kabar dan majalah yang diterbitkan oleh NU sebelum tahun 1960-an baik yang berbahasa Indonesia, Arab maupun Arab-Pegon masih dapat tersimpan.
Biasanya, banyak kalangan mahasiswa dari perguruan tinggi di Jawa Timur mengunjungi rumah milik H. Chisni untuk menambah data sejarah NU dalam mengerjakan tugas akhir.
Mereka tak serta merta langsung menuju kediaman mantan ajudan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari, sebelumnya mereka harus izin terlebih dahulu kepada PBNU atau PWNU.
Anggota Komisi V DPR RI, Jazilul Fawaid menjadi inisiator agar dokumen asli sejarah NU dapat di duplikat, sehingga dapat dinikmati publik.
Sehingga NU manapun bisa melihat sejarah NU dari manuskrip aslinya yang ada disini.
"Kita scan, dari yang hard file menjadi soft file. Apa yang ada di depan saya ini sejarah NU lengkap sejak awal berdiri bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarah," ujarnya.
Untuk mengenalkan sejarah NU yang lebih luas lagi, terutama menyentuh generasi milenial, nantinya akan didukung mendirikan cafe bernuansa NU selain untuk belajar sejarah NU, nantinya bisa menjadi tempat nongkrong dan diskusi generasi muda NU.
"Sekarang zamannya kreatif, tidak kreatif ya tidak bisa, jadi nanti kita cari lokasi pokoknya tempatnya strategis," kata dia.
Sementara itu, Kh Chisni mengaku tidak mempermasalahkan bila di duplikat dengan cara di scan, karena dari amanat kiai pendiri NU dokumen asli sejarah NU tidak boleh berpindah dari kediamannya.
"Nanti ada tim yang mendampingi untuk melakukan duplikasi, instruksi dari Kiai pendiri NU dokumen asli harus tetap disini," kata dia.
Menurutnya, selama ini, belum ada sama sekali perhatian dari pemerintah mengingat ada dokumen sejarah asli NU yang masih tersimpan rapi di Kabupaten Gresik.
"Belum ada bentuk bantuan pemerintah," jelasnya.