Berita Entertainment

Sempat Disebut Musisi Palsu dan Menjijikkan, Anang Hermansyah Akhirnya Jawab Polemik RUU Permusikan

Sempat Disebut Musisi Palsu dan Menjijikkan, Anang Hermansyah Akhirnya Jawab Polemik RUU Permusikan

Sempat Disebut Musisi Palsu dan Menjijikkan, Anang Hermansyah Akhirnya Jawab Polemik RUU Permusikan
WARTA KOTA/nur ichsan
Sempat Disebut Musisi Palsu dan Menjijikkan, Anang Hermansyah Akhirnya Jawab Polemik RUU Permusikan. 

SURYA.CO.ID - Sempat disebut musisi palsu dan menjijikkan oleh Jerinx personil Superman is Dead (SID), Anang Hermansyah akhirnya menjawab polemik Rancangan Undang Undang (RUU) Permusikan.

Seperti diketahui, sejumlah pasal di RUU Permusikan mendapat reaksi keras dari sejumlah penyanyi dan pencipta lagi, termasuk Jerinx SID

Jerinx SID bahkan menyebut Anang Hermansyah jiwanya politisi tetapi mencari makan di musik.

Di bagian lain, sejumlah musisi menilai bahwa pasal 5, pasal 32, dan pasal 50 dalam RUU Permusikan yang digulirkan oleh Komisi X DPR RI ini tidak sejalan dengan usaha mendukung produktivitas musisi dalam berkarya.

Enggan berpolemik dengan rekan-rekannya, Anang justru memahami kegelisahan teman-teman musisinya terhadap pasal-pasal tersebut.

"Saya bisa memahami kegelisahan teman-teman terkait dengan pasal 5 RUU Permusikan ini, itu bisa didiskusikan dengan kepala dingin," kata Anang melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (1/2/2019).

Sebagai informasi, pasal 5 dalam RUU Permusikan berisi tentang beberapa larangan bagi para musisi: dari mulai membawa budaya barat yang negatif, merendahkan harkat martabat, menistakan agama, membuat konten pornografi, hingga membuat musik provokatif.

Dalam pembuatan sebuah UU yang baik, kata Anang, harus berlandaskan pada tiga landasan, yakni filosofis, yuridis, dan sosiologis.

Menurut Anang, isu kebebasan berekspresi yang disandingkan dengan norma dalam pasal 5 harus dikembalikan pada ketentuan tentang HAM sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

"Isu kebebasan berekspresi dan berpendapat, pada akhirnya dihadapkan padal Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 bahwa kebebasan itu dibatasi dengan UU yang mempertimbangkan nilai moral, agama, keamanan dan ketertiban umum dalam bingkai negara demokrasi," ujar Anang.

Halaman
1234
Editor: Musahadah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved