Update Amir yang Jalan Kaki dari Medan ke Banyuwangi demi Temui Ibu, Kini Sudah Sampai di Pasuruan

Kabar TerbaruUpdate Amir yang Jalan Kaki dari Medan ke Banyuwangi demi Temui Ibu, Kini Sudah Sampai di Pasuruan Amiruddin Pria yang Rela Jalan Kaki da

Update Amir yang Jalan Kaki dari Medan ke Banyuwangi demi Temui Ibu, Kini Sudah Sampai di Pasuruan
Facebook/Yus Santosa
Update Amir yang Jalan Kaki dari Medan ke Banyuwangi demi Temui Ibu, KiniSudah Sampai di Pasuruan 

SURYA.co.id - Nama Amiruddin atau akrab disapa Amir jalan kaki dari Medan ke Banyuwangi mendadak viral beberapa waktu lalu.

Kisah Amir jalan kaki dari Medan ke Banyuwangi demi untuk bersujud di kaki sang ibu mendapat banyak perhatian dari masyarakat, terutama orang-orang yang wilayahnya dilalui oleh Amir.

Kabar terkini mengenai posisi Amiruddin saat ini dibagikan oleh akun Mamas Jonny pada sebuah grup di Facebook, Rabu (23/1/2019).

Dalam unggahannya, Mamas Jonny tak hanya membagikan kondisi terkini Amiruddin, namun juga potret pria paruh baya yang masih melakukan perjalanan untuk dapat bertemu sang ibu.

Mamas Jonny menuliskan jika saat ini posisi Amiruddin telah berada di daerah Grati, Nguling, Pasuruan Jawa Timur.

Demi Sujud di Kaki Ibu, Amiruddin Jalan Kaki dari Sumut ke Banyuwangi. Kisahnya Viral di Medsos

Cerita Penghuni dan Tetangga Kos Mahasiswi Untag Surabaya yang Tewas Bunuh Diri di Kamar Kos

Kronologi dan Kesaksian Warga Atas Penemuan Mahasiswi Untag Surabaya yang Tewas Bunuh Diri di Kos

Dari foto yang dibagikan oleh akun tersebut, terlihat perjalanan Amiruddin dikawal dan diapresiasi oleh banyak orang.

"Sekilas menginfokan perjalan Bapak Amir yang berjalan kaki dari Medan menuju Banyuwangi demi menunaikan nadzarnya kpd Allah setelah sembuh dan bisa kmebali berjalan lagi setelah 7 bulan sakit, sudah sampai di daerah Grati-Nguling, Pasuruan," tulis akun Mamas Jonny.

Melalui unggahan itu pula, Mamas Jonny meminta kepada warga yang wilayahnya dilalui oleh Amiruddin untuk dapat memberikan bantuan seikhlasnya baik materi maupun logistik.

"Bagi mbah-mbah yg kediamannya di jalur probolinggo-lumajang-jember dan ingin membantu beliau baik secara materi ataupun persediaan logistik bisa membatu demi kelancaran beliau bertemu dengan ibu nya di banyuwangi," tambahnya.

Amiruddin saat singgah di Jombang, Jawa Timur. Amiruddin jalan kaki dari Sumatera Utara ke Banyuwangi untuk memenuhi nazar mencium kaki sang ibu.
Amiruddin saat singgah di Jombang, Jawa Timur. Amiruddin jalan kaki dari Sumatera Utara ke Banyuwangi untuk memenuhi nazar mencium kaki sang ibu. (surabaya.tribunnews.com/sutono)

Diberitakan sebelumnya, Amiruddin merupakan seorang warga kampung Mandailing, Kecamatan Sei Rampah, Kbaupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara yang tengah melakukan perjalanan menuju Banyuwangi, Jawa Timur untuk bertemu dengan ibunya.

Pria berusia 44 tahun itu, pada Jumat (18/1/2019) lalu telah berada di Jombang, Jawa Timur setelah melakukan perjalanan berhari-hari.

Total jarak yang dia tempuh untuk misi itu adalah 2.961 km.

Apabila ditempuh dengan jalan kaki tanpa henti, perjalanan diperkirakan memakan waktu 580 jam lebih.

Perjalanan Amir (sapaan akrabnya), dimulai pada 20 November 2018 silam.

Disambut sejumlah netizen di Jombang, Amir menyempatkan waktu untuk berbincang.

Ia bercerita, dia melakukan perjalanan itu untuk memenuhi nazar karena penyakit lumpuhnya secara ajaib sembuh.

"Saya sudah tujuh bulan lumpuh. Waktu mau Salat Subuh, kaki saya tiba-tiba tidak bisa diangkat. Kata dokter itu gejala tulang keropos. Padahal usia saya masih 44 tahun," kata Amir dikutip dari artikel SURYA.co.id yang berjudul 'Demi Sujud di Kaki Ibu, Amiruddin Jalan Kaki dari Sumut ke Banyuwangi. Kisahnya Viral di Medsos'.

Kelumpuhan itu benar-benar menjadi pukulan berat bagi Amir. Namun, ia berusaha mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya.

Dia menganggap penyakit lumpuh itu adalah teguran dari Allah kepadanya yang kerap meninggalkan perintah Allah. Banyak dosa. Misalnya warga lain salat Jumat, saya malah asyik mabuk sama teman-teman.

"Salat saya waktu bolong-bolong. Saya anggap lumpuh itu sebagai teguran. Justru setelah lumpuh saya jadi rutin salat malam. Sebelum lumpuh malah tidak sama sekali," papar Amir.

Selama hampir tujuh bulan, dia praktis tidak bisa melakukan aktivitas normal karena lumpuh. Untuk hidup dan aktivitas sehari-hari dia menggantungkan kepada kakak perempuan dan para tetangga.

Memasuki pertengahan bulan ketujuh sejak dia lumpuh. Malam itu, Amir menunaikan Salat Tahajud. Dalam doanya, Amir bernazar akan berjalan kaki menuju rumahnya ibudanya di Banyuwangi jika ia diberi kesembuhan.

"Saya nazar, bertekad jalan kaki ke rumah Ibu, ingin sujud di kaki Ibu, perempuan yang telah melahirkan saya. Itu nazar saya. Sebagai anak, saya merasa punya banyak salah kepada ibu," kata Amir.

Keajaiban datang keesokan. Malam dia bernazar itu, tiba-tiba paginya Amir bisa mengangkat kaki untuk jalan. Pelan-pelan saya bisa berjalan normal. "Sejak itu, saya menyusun rencana untuk memenuhi nazar saya," ungkap Amir.

Maka pada 20 November 2018, tepat peringatan Maulid Nabi, dia berangkat dari rumah. Amir hanya membawa dua pasang pakaian ganti. Satu pasang ia kenakan, satu pasang ia taruh di dalam tas.

"Saya tidak bawa uang sepeser pun. Tapi, tekat saya sudah bulat. Saya punya niat baik, saya pasrah. Hidup mati ada di tangan Allah," ucapnya. Meski tidak membawa bekal, ada saja orang memberinya makan atau uang meski dia tidak pernah meminta.

Ayah Cut Meyriska Mati-matian Menolak Roger Danuarta, Begini Cara Dia Mengatasinya

Saipul Jamil Dendam dan Merasa Ditinggalkan Teman, Jenita Janet Ingin Ajak Curhat

Pengendara Motor Terseret 800 Meter di Kolong Mobil Toyota Innova di Lamongan

Kisah Perjalanan Amiruddin dari Sumatera Utara

Amiruddin menceritakan, dalam perjalanannya ia tak selalu bertemu dengan orang baik dan mau membantunya.

Seperti saat ia berada di Riau, ia sempat menemukan sebuah dompet di jalan. Merasa bukan haknya, Amirt mengembalikan dompet itu kepada pemilik, sesuai alamat yang tertera di kartu identitas di dalam dompet.

"Namun, siapa sangka, saya malah dituduh pencopet dompet tersebut. Saya sabar saja dan meneruskan perjalanan," kata Amir lirih.

Pernah juga sesampainya di Bandar Lampung, ia dua kali dipalak preman dan dipukuli, sampai kemudian dilerai polisi. Kemudian sesampainya di Pelabuhan Bakauheni Lampung, Amir tak punya uang guna membeli tiket kapal menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Jawa.

Tapi di luar dugaan dia dibantu seorang polisi. "Polisi itu membawa saya menyeberangi lautan secara gratis," ujar Amir tersenyum.

Selama berada di perjalanan, Amir hampir selalu menginap di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang dilintasi. Ia mengaku hanya sekali menginap di luar SPBU, yakni di teras warung yang sudah tutup, di Lampung.

Perjalanan kaki Amir ternyata menjadi viral di social media (media sosial/medsos). Meski tak paham internet, Amir merasakan dampak positif dari medsos.

"Awalnya, ada yang datang, ambil foto sembari ngobrol. Setelah itu, banyak sekali orang baik datang. Terutama setelah saya memasuki kawasan Jawa Tengah. Tiba-tiba ada mobil berhenti dan mengulurkan uang," ucapnya.

Kedatangan Amir di Jombang juga disambut sejumlah netizen. Tarie, netizen Jombang mengaku memberikan doa, dorongan moral dan spirit kepada Amirudin agar semua usaha menemui ibundanya di Banyuwangi berjalan lancar dan kisahnya berujung bahagia.

Penulis: Akira Tandika Paramitaningtyas
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved