Breaking News:

Istri Ustadz Maulana Meninggal Usai Kena Kanker Usus, Ini Penyebab & Cara Mengobati Kanker Usus

Istri Ustadz Muhammad Nur Maulana meninggal dunia setelah melawan kanker usus, ini penyebab dan cara mengobati kanker usus

IST
Istri Ustadz Maulana Meninggal Usai Kena Kanker Usus, Ini Penyebab & Cara Mengobati Kanker Usus 

SURYA.co.id - Istri Ustadz Muhammad Nur Maulana, Hj Nur Aliyah Ibnu Hajar meninggal dunia, Minggu (20/1/2019), setelah melawan kanker usus selama 7 tahun.

Ustadz Maulana pun mengungkapkan penyakit yang diderita istrinya, Hajjah Aliah Maulana, hingga meninggal dunia

Menurut Ustadz Maulana, penyakit kanker usus yang diderita istrinya sudah berlangsung sejak tujuh tahun silam.

"Penyebab berpulangnya ke rahmatullah adalah penyakit kanker usus yang ditemukan di bulan September (2018) tapi sebenarnya katanya sudah tujuh tahun tapi baru ketahuan bulan September 2018," kata Ustadz Maulana.

Kado Spesial Habib Usman di Hari Ulang Tahun Kartika Putri, Barang Bermerek hingga Mendadak Romantis

Atta Halilintar Jadi Youtuber 9 Juta Subscribers Pertama Asia Tenggara, Ungkit Perjuangannya Dulu

Kisah Jumali Mandikan & Beri Makan 2 Ekor Buaya di Banjarbaru, Begini Caranya Aman Dari Sergapan

Berkaca dari penyakit kanker usus yang diderita oleh Istri Ustadz Maulana, ada baiknya kita lebih waspada

Dilansir dari laman Hellosehat, berikut penyebab dan cara mengobati kanker usus:

Sampai saat ini, para dokter dan ahli belum menemukan apa penyebab pasti dari kanker usus.

Namun, kondisi-kondisi tertentu bisa memicu atau menjadi faktor risiko kanker usus halus.

Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko Anda terhadap kanker usus halus.

- Orang yang lanjut usia (di atas 60 tahun)

- Pria lebih berisiko daripada wanita

- Faktor genetik (keturunan atau ada riwayat kanker dalam keluarga)

- Merokok dan minum minuman beralkohol

- Pola makan yang tinggi lemak

- Tinggal atau bekerja di lingkungan yang tinggi kandungan kimianya (misalnya phenoxyacetic acid dalam pestisida)

- Kondisi lainnya yang memengaruhi usus seperti penyakit Crohn, kanker usus besar, atau penyakit Celiac

- Limfedema (kerusakan pembuluh yang terhubung dengan kelenjar getah bening)

Melansir dari Express.co.uk yang dikutip Nakita.id sebelumnya, kanker usus ini bisa dipicu dari berbagai hal, salah satunya gaya hidup dan pola makan berantakan.

Terutama makanan alternatif yang disangka menyehatkan dan praktis tetapi justru memicu kanker usus, seperti sosis daging.

Sosis
Sosis (ramesia.com)

Pada 2015 lalu, World Health Organization (WHO) menganggap sosis adalah salah satu makanan yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan.

Jauh sebelum WHO menyatakan hal tersebut, seorang ilmuwan di Queen's University di Belfast juga mengatakan hal serupa.

Ilmuwan tersebut mengatakan sosis mengandung bahan kimia berbahaya yang menyebabkan penyakit kanker

Di sisi lain, laporan terbaru yang terbit di International Journal of Cancer, Minggu (1/4/2018), menyarankan agar kita mengurangi daging merah untuk mengurangi risiko terkena kanker usus besar atau kanker kolon.

Menurut Harvard Health, semakin banyak daging merah yang masuk ke dalam tubuh akan memiliki tingkat senyawa N-nitroso (NOC) yang lebih tinggi di dalam feses. 

Senyawa ini adalah pemicu kanker usus.

"Penelitian kami makin menguatkan adanya hubungan antara kanker usus dengan daging merah. Namun, analisis lebih lanjut dengan penelitian lebih besar masih diperlukan untuk mencari pencegahannya," kata Dr Diego Rada Fernandez de Jauregui, bagian dari tim Epidemiologi Gizi di Leeds, dilansir Newsweek Senin (2/4/2018)

Daging kambing segar
Daging kambing segar (tribunnews)

Pengobatan yang dianjurkan dokter tergantung pada jenis kanker dan seberapa jauh penyebarannya.

Operasi adalah salah satu perawatan yang paling diutamakan.

Pada saat operasi, dokter bedah akan mengangkat bagian usus halus yang ada kankernya.

Bisa juga tim dokter melakukan bypass supaya makanan bisa mencari jalan baru untuk melalui tumor yang tak bisa diangkat.

Bahkan kalau dokter sudah mengangkat semua kanker, masih mungkin akan dianjurkan menjalani terapi radiasi atau kemoterapi untuk membunuh sel-sel kanker.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved