Sosok

Potret Yunita Velany Sulayman, Memulai Bisnis dari Hal yang Disukai

Yunita Velany Sulayman (26) tak pernah jauh dari aksesori, hingga akhirnya pada 2016 ia memutuskan berbisnis di bidang tersebut.

Potret Yunita Velany Sulayman, Memulai Bisnis dari Hal yang Disukai
surya/de
Potret Yunita Velany Sulayman 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sehari-hari, Yunita Velany Sulayman (26) tak pernah jauh dari aksesori. Perempuan asli Atambua, Nusa Tenggara Timur itu menyebut dirinya telah menyukai aksesori sejak kecil, hingga akhirnya pada 2016, ia memutuskan berbisnis di bidang tersebut.

"Dari dulu saya sendiri suka mengenakan aksesori, tapi tidak ada pikiran berjualan. Baru ketika saudara mengatakan ia ketemu dengan supplier aksesori murah, oke kami mulai bisnis ini," tuturnya, Jumat (18/1/2019).

Jenis-jenis aksesori diakui Yunita banyak sekali, sehingga ia sempat bingung memilih aksesori apa yang cocok untuk dijual di toko online-nya, Aprilite. Lulusan Teknik Industri Universitas Kristen Petra Surabaya itu lalu memutuskan untuk melihat tren aksesori di sekelilingnya.

"Saya mengikuti yang lagi tren, dulu itu choker, nah saya mulai dari situ. Lama-lama pindah, kan tren selalu berubah-ubah ya, sekarang lebih ke anting-anting. Ada juga gelang dan cincin, tapi yang sedang booming anting-anting," jelas alumnus SMA Santa Maria Malang ini.

Untuk memantau tren, penyuka warna merah muda itu rajin mengeksplorasi media sosial, utamanya Instagram.

Ia juga mengikuti akun-akun social media influencer yang banyak digandrungi masyarakat.

Tren tahun ini menurutnya adalah anting-anting ala artis Korea Selatan.

Yunita bercerita, banyak pelanggannya yang mengirimkan pesan melalui Instagram @aprilite_, maupun kontak Line dan WhatsApp, untuk menanyakan anting-anting mirip yang dikenakan aktris dalam drama Korea.

"Yang disukai orang sekarang itu model Korea. Seiring booming-nya drama Korea, orang-orang ingin anting-anting yang dipakai oleh aktrisnya. Aktrisnya sih ganti-ganti," terangnya.

Kini, aksesori Aprilite sudah memiliki pelanggan dari hampir seluruh kota di Indonesia.

Namun, pelanggan terbanyak, kata Yunita, tetap dari Surabaya.

Apalagi, ia sering mengikuti bazaar di mal-mal Kota Pahlawan, sehingga pelanggan bisa melihat langsung produknya.

"Positifnya bazaar, itu kan dikemas selama tiga hari, nah orang yang datang itu benar-benar banyak. Kalau jualan online, paling sehari satu saja pembelinya. Tapi kalau bazaar, dalam tiga hari itu pembelinya langsung banyak," kata pehobi travelling tersebut.

Ia pun berpesan pada pelaku bisnis yang masih muda seperti dirinya, untuk selalu berpikir kreatif dan menjunjung satu produk khas, agar memiliki keunikan dibanding pesaing.

"Dulu asal buka toko, orang langsung beli. Sekarang tidak bisa, saingan semakin banyak, jadi tokomu itu khasnya apa, itu harus ditonjolkan. Tunjukkan apa yang kamu punya, tapi orang lain tidak punya," pungkasnya. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved