Jumat, 5 Juni 2026

Citizen Reporter

Mengenal Kerajinan Gamelan Mustika Laras Nganjuk, Selaraskan dengan Hati

Kerajinan gamelan Mustika Laras merupakan salah satu dari sekian banyak kerajinan yang ada di Nganjuk.

Tayang:
Editor: Parmin
foto:istimewa
Kerajinan gamelan Mustika Laras dirintis sejak 1959 oleh Mbah Harjo Pawiro ini berlokasi di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. 

MENGENAL seni dan budaya lokal tentu menarik untuk diikuti perkembangannya, bukan tidak mungkin ketika era sudah berbau millennium. Sejatinya aura warisan leluhur itu masih tetap ada hingga saat ini.

Kota dengan sebutan Anjuk Ladang (Nganjuk) dengan ragam budaya yang dimilikinya tidak mustahil akan menjadi salah satu barometer penting dalam menjawab tantangan itu.

Bukan lagi soal bagaimana merawat atau mempertahankan kepingan seni dan budaya Jawa agar tetap lestari, melainkan lebih dari itu, yaitu bagaimana kekayaan budaya daerah Nganjuk sendiri bisa dieksplorasi secara universal.

Kerajinan gamelan Mustika Laras merupakan salah satu dari sekian banyak kerajinan yang ada di Nganjuk.

Keberadaannya masih bisa disaksikan hingga sekarang.

Usaha warisan leluhur dari keluarga Nurhadi seakan menjadi spirit bagi pecinta seni gamelan Jawa walau hidup di tengah kemajuan zaman, namun tetap optimistis peradabannya terus menyala.

Saat ini usaha itu dipegang Didik Adiono, generasi ketiga.

Kerajinan turun temurun yang dirintis sejak 1959 oleh Mbah Harjo Pawiro ini berlokasi di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Ia bertutur tentang usaha kerajinan gamelan Jawa. Dalam proses, gamelan itu bisa dipasarkan ke Jakarta, Blora, Bali, hingga Singapura.

Pria yang memiliki latar belakang pendidikan teknik ini pun tak segan menekuni warisan leluhurnya itu.

Ditambah lagi darah seni yang mengalir dalam tubuh pria berusia 43 tahun itu kian menunjang perannya dalam memproduksi gamelan Jawa.

“Koridor dalam melestarikan gamelan Jawa, ditempatkan pada parameter kedua. Sementara, hal utama yang harus dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana kelangsungan hidup para pekerja yang berjumlah sekitar 20 orang bisa tetap berjalan,” kata Didik, Rabu (21/11/2018).

Hal mendasar yang dilakukan agar mendapatkan hasil suara yang bagus dari alat musik yang dibuatnya seperti gong, kenong, gender, kendang, dan lainnya adalah mengombinasikan antara hati dan rasa.

Selanjutnya, itu diwujudkan dalam bentuk karya untuk bisa dinikmati banyak orang.

Itulah salah satu proses yang membuat tradisi warisan itu bisa eksis hingga sekarang.

Didik meyakini karena ada kekuatan dalam menyeimbangkan jiwa seni yang diselaraskan dengan hati dalam menjaga dan melestarikan kerajinan gamelan Jawa.

Itulah Mustika Laras.

Imam Nugroho
Karyawan
imanu75@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved