Citizen Reporter

Menjadi Guru Serba Bisa

Guru merupakan tokoh yang digugu dan ditiru. Jika menjadi guru, sudah seharusnya bisa menjadi fasilitator belajar bagi siswa-siswanya.

Menjadi Guru Serba Bisa
foto:istimewa
Pada Pendidikan Kepramukaan yang diampu oleh Nihayati, selain diajarkan cara-cara menarik membina Pramuka SD dengan berbagai permainan seru, mahasiswa juga mengasah kemampuan seninya dengan menggambar, Jumat (30/11/2018). 

GURU merupakan tokoh yang digugu dan ditiru. Jika menjadi guru, sudah seharusnya bisa menjadi fasilitator belajar bagi siswa-siswanya.

Universitas Negeri Malang (UM), menunjukkan kemaksimalannya dalam mendidik calon-calon guru masa depan. Tidak melulu tentang pembelajaran di dalam ruang kelas, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) kelas L6, rutin belajar outdoor setiap Jumat pagi mulai pukul 07.00-08.45.

Itu berlangsung selama semester ganjil untuk mata kuliah Pendidikan Kepramukaan. Bertempat di halaman depan gedung A2 UM, mahasiswa L6 PGSD melatih kesiapan diri menjadi pembina.

Menjadi guru SD, bukan hanya tentang IPA, IPS, atau pun Matematika melainkan dituntut untuk menguasai segalanya. Itu termasuk tentang kesenian. Pada Pendidikan Kepramukaan yang diampu oleh Nihayati, selain diajarkan cara-cara menarik membina Pramuka SD dengan berbagai permainan seru, mahasiswa juga mengasah kemampuan seninya dengan menggambar, Jumat (30/11/2018).

“Dalam Pendidikan Kepramukaan, kita berlatih untuk mengasah kreativitas, agar mahasiswa siap ketika menghadapi tantangan dalam mengajar di SD,” jelas Niha.

Kegiatan menggambar sudah sepantasnya diajarkan kepada mahasiswa PGSD karena anak-anak SD cenderung menyukai gambar-gambar. Jadi hal itu bisa dijadikan sebagai referensi untuk media pembelajaran agar dapat menarik minat siswa dalam belajar.

“Penting sekali bisa menggambar karena anak-anak suka gambar,” tutur Ardita, penanggung jawab mata kuliah Pendidikan Kepramukaan.

Mahasiswa kelas L6 PGSD juga belajar banyak tentang gradasi warna untuk mempercantik hasil gambarnya. Cara berpikir anak SD yang masih belum dapat berfikir abstrak menuntut para guru untuk memberikan pengajaran dengan media belajar yang konkret. Oleh sebab itu skill menggambar sangat diperlukan.

“Nyatanya menjadi guru SD tidak semudah yang dibayangkan. Kita harus menguasai banyak hal,” sambung Ardita.

Silvia Arina Hidayati
Mahasiswa PGSD Universitas Negeri Malang
silvia.arinahidayah@gmail.com

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved