Berita Surabaya

Lembaga Perlindungan Anak Jatim: Surabaya Paling Banyak Kasus Kekerasan terhadap Anak, ini Datanya

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim mencatat bahwa Surabaya menjadi kota paling bahyak terjadi kekerasan terhadap anak dibanding 36 kota/kabupaten.

Lembaga Perlindungan Anak Jatim: Surabaya Paling Banyak Kasus Kekerasan terhadap Anak, ini Datanya
surya/fatimatuz zahroh
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat memarahi lima anak Surabaya yang ditangkap Satpol PP karena kedapatan ngelem, Senin (19/11/2018). Data LPA Jatim Surabaya paling banyak anak mengalami kekeraasan. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim mencatat bahwa Surabaya menjadi kota paling bahyak terjadi kekerasan terhadap anak dibanding 36 kota kabupaten lain di Jatim.

Meski secara umum, kasus kekerasan pada anak terjadi penurunan sekitar 10 persen. Di Kota Surabaya ada 132 kasus.

Di bawahnya adalah Mojokerto 25, Jombang 20, Gresik  20, Malang, 17, Blitar 12, Sidoarjo 12, Pasuruan 11, Bangkalan 8, dan Lamongan 8 kasus.

Selain itu LPA Jatim mencatat anak pengguna narkotika dan zat adiktif (Napza) di Jatim tahun ini meningkat hingga empat kali lipat dibanding 2017. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim mencatat ada peningkatan 400 persen kasus usia anak terlibat penggunaan Napza ini.

"Sesuai UU perlindungan anak, mereka yang berusia anak yang terlibat baik pengedar atau pengguna napza adalah korban. Namun Banyaknya pengguna napza ini bikin miris," kata Sekertaris LPA Jatim Isa Ansori, Rabu (26/12/2018).

Isa mencatat selamat 2017 tidak ada laporan atau data yang ditemukan LPA Jatim khusus keterlibatan anak dalam Napza di Jatim. Namun tahun ini ditemukan angka yang luar biasa. 

Temuan itu selain dari laporan masyarkaat juga dari media. Baik korban maupun pihak lain melapor ke LPA.

"Banyaknya anak yang "ngelem" bareng memberi kontribusi peningkatan jumlah pengguna napza anak. Selain ada juga yang terlihat jenis napza lain," lanjut Isa.

Data  LPA Jatim pada 2017 tidak ditemukan laporan anak terlibat Napza. Namun 2018 ini sebanyak 40 laporan anak terlibat napza. 

Era Gadget dan lemahnya pengawasan keluarga dan lingkungan memberi kontribusi keterlibatan anak pada napza. Gadget begitu mudah mengakses teman dan dengan Gadget pula mereka dipengaruhi.

Selain itu, LPA juga mencatat ada 143 kekerasan seksual pada anak selama 2018. Menurun dibanding sebelumnya sebanyak 169 kasus. Begitu juga kasus Eksploitasi Ekonomi terhadap anak atau Trafficking menurun dari tahun lalu 61 kasus saat ini 11 kasus.

 Selain itu, kasus Pembunuhan yang melibatkan anak nyaris sama. Tahun lalu ada 26 kasus dan tahun 2018 sebanyak 25 kasus.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved