Penembakan di Papua

DPR Ingin Ada Operasi Tumpas KKB, juga Tetapkan Kelompok Separatis sebagai Teroris

Anggota DPR ingin ada operasi besar-besaran menumpas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan pekerja Trans papua di Nduga, Papua.

DPR Ingin Ada Operasi Tumpas KKB, juga Tetapkan Kelompok Separatis sebagai Teroris
Ahmad Faisol
Sejumlah pasukan TNI AD melakukan latihan perang di Hutan Baluran, untuk meningkatkan kemampuan dalam menjaga NKRI.DPR Ingin Ada Operasi Tumpas KKB, juga Tetapkan Kelompok Separatis sebagai Teroris. 

SURYA.co.id | JAKARTA - Anggota DPR ingin ada operasi besar-besaran menumpas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan pekerja Trans papua di Nduga, Papua akhir November lalu. 

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI Asri Hamzah Tanjung, Kamis (13/12/2018).  

Asri Hamzah Tanjung pun mendorong pemerintah untuk melakukan operasi menumpas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Hal itu disampaikannya menanggapi insiden pembantaian pekerja Trans Papua.

Berita Terkini Mapolsek Ciracas Dibakar, Polisi Tangkap 4 Pelaku Pengeroyokan, 1 Pelaku Masih Buron

Ketum Golkar Airlangga Hartarto Tanggapi Pengakuan Dosa La Nyalla Telah IsukanJokowi PKI

Fahri Hamzah Bandingkan Hoaks Jokowi PKI ala La Nyalla dan Hoaks Ratna Sarumpaet, Adil Itu Relatif

Asril menyebut insiden tersebut sebagai gerakan pemberontak atau separatis.

"Nah itu pemerintah ragu-ragu, ini negara kita NKRI, itu harga mati. Itu dibilang berkali-kali harus dikejar anggak boleh ada pemberontak itu," katanya di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta.

"Jangan tanggung-tanggung, udah operasi, kalau takut pemerintah minta persetujuan DPR kerahkan pasukan. Selesaikan, kan ada rumusnya, ada Undang-Undangnya (UU), kita punya UU pertahanan, UU TNI, macam macam UU sebagai payung hukum kita," imbuhnya.

Kelompok Separatis Papua Mengira Pekerja yang Dibantai Adalah TNI, 3 Bulan Amati Trans Papua
Kelompok Separatis Papua Mengira Pekerja yang Dibantai Adalah TNI, 3 Bulan Amati Trans Papua (Facebook TPNPB)

Lebih lanjut, dengan kejadian insiden pembantaian itu, Arsil menilai kondisi Papua belum aman. Dia menyamakan insiden tersebut dengan kelompok separatis di Poso, Sulawesi Tengah.

"Kita terbuai aman-aman, apa aman? Papua kok aman, enggak aman, masih ada kelompok bersenjata ( Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kok. Coba waktu di Sulteng, Santoso apa disebut kriminal bersenjata enggak? Pemberontak kan? Itu yang betul," jelasnya.

"Kenapa sama Papua kita takut? Takut sama Australia? Amerika? Ini negeri kita kok, kalaupun ngajak perang, ya kita perang, kan gitu harusnya," tutupnya.

Halaman
12
Editor: Iksan Fauzi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved