Pilpres 2019

Lagu Sontoloyo dan Arwah Si Manis Jembatan Ancur Jadi Kampanye Video Kreatif, Sukowidodo : Tepat

Kedua tim dari pasangan Capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf maupun nomor Prabowo-Sandi mulai menjajaki model kampanye digital kreati

Lagu Sontoloyo dan Arwah Si Manis Jembatan Ancur Jadi Kampanye Video Kreatif, Sukowidodo : Tepat
istimewa
Pakar komunikasi politik Universitas Airlangga, Suko Widodo 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kedua tim dari pasangan Capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi-KH Maruf Amin maupun nomor urut 02, Prabowo-Sandi mulai menjajaki model kampanye digital kreatif.

Tim Jokowi-Ma'ruf membuat video berjudul 'Arwah Si Manis Jembatan Ancur' yang berisi  keberhasilan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur jembatan. Video tersebut di publikasikan oleh akun YouTube Kolaborasyik.

Sedangkan Tim Prabowo-Sandi yang diwakili Ahmad Dhani, Fadli Zon dan Sang Alang mengkritik kinerja pemerintah dengan lagu ' Sontoloyo'nya.

La Nyalla Beber Cara Sebarkan Isu Jokowi PKI, Janji Potong Leher jika Nanti Prabowo Menang di Madura

La Nyalla : Saya yang Isukan Pak Jokowi PKI, Sebarkan Obor Rakyat di Pilpres 2014, Saya Menyesal

Pakar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Airlangga ( Unair), Sukowidodo menilai model strategi kampanye dengan video kreatif yang diterapkan oleh tim dari kedua paslon sudah tepat.

"Ini bentuk medium kampanye kreatif, karena kita tahu public meeting terus berkurang dan dalam perkembangan teknologi industri 4.0 ini media digital ini menjadi salah satu pegangan kuat oleh publik," kata Suko, Selasa (11/12/2018).

Namun, Suko mengatakan tim kampanye harus tepat dan berkualitas dalam menentukan substansi dari video kampanye tersebut sehingga bisa benar-benar membentuk opini publik seperti yang diinginkan.

"Jangan hanya berhenti di imajinasi saja, dan jadi sekadar hiburan dan tontonan belaka," kata Suko.

Untuk kedua video dari masing-masing tim Paslon sendiri menurut Suko pesan yang disampaikan kurang kuat  dan tidak sampai berefek ke pendulangan suara.

"Nantinya hanya akan jadi wacana dan catatan di otak saja dan tidak sampai dalam pengambilan sikap. Ya cuma jadi peneguhan kembali pada konstituen saja," ujar Suko.

Menurut Suko, harusnya kampanye-kampanye digital disertai riset yang kuat dan berdasarkan data yang valid.

"Data itu bisa dikualitatifkan dengan penyampaian diksi dan narasi yang tepat dengan bahasa masyarakat yang sedikit provoke tetapi disertai data yang memadai itu yang akan memenangkan perperangan opini publik," pungkasnya. (Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti)

Simak videonya di bawah ini : 

Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved