Ekonomi Bisnis

Program Pipa dan Pengaliran Gas Bumi PT PGN Tbk Jadi Berkah bagi UMKM Kampung Lontong Surabaya

Sekitar 100 warga dapat kesempatan pertama program jaringan gas bumi pada 2015 silam, termasuk warga di Kampung Lontong Surabaya ini.

Program Pipa dan Pengaliran Gas Bumi PT PGN Tbk Jadi Berkah bagi UMKM Kampung Lontong Surabaya
surya/sugiharto
Seorang warga memasukkan beras untuk membuat lontong Kampung Lontong Surabaya, Senin (10/12/2018). Sejak menggunakan gas alam PGN keuntungan warga pembuat lontong mengalami peningkatan karena lebih murah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemandangan tumpukan tabung LPG (Liquid Petroleum Gas) atau gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) kini sudah tidak tampak lagi di sebuah perkampungan di tengah kota Surabaya. Tepatnya di kawasan Banyuurip Lor Gang X, Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, yang juga dikenal sebagai Kampung Lontong Surabaya, karena mayoritas warganya adalah pengusaha pembuat dan penjual lontong.

"Sudah sejak tiga atau dua tahun yang lalu, mayoritas tidak lagi pakai gas elpiji 3 kg. Sehingga tidak ada lagi tumpukan tabung gas ijo seperti dulu," cerita Sudarmi, warga Banyuurip Lor Gang X.

Dulunya, saat masih pakai gas tabung elpiji ukuran 3 kg, pengusaha lontong yang mayoritas segmen mikro dan kecil atau UMKM itu harus memiliki minimal tiga tabung.

Mudahkan Pelanggan, Bayar Tagihan Gas Bumi PGN Bisa Pakai Aplikasi Go-Pay

Karena untuk mengukus lontong, lamanya antara enam hingga 12 jam, sehingga kebutuhan bahan bakar untuk kompor sangat tinggi.

"Kalau dulu selama masak lontong satu hari, kami habis tiga tabung gas elpiji. Sehingga minimal punya tiga tabung, setelah habis hari itu, beli isi ulang tiga tabung sekaligus untuk hari berikutnya. Kalau yang punya uang, bisa punya stok gas tabung banyak. Kadang ada yang tiga hari, minimal 9 tabung, lima hari, seminggu, tinggal mengalikan saja. Sehingga kelihatan 'jejer-jejer dan bertumpuk'," cerita Darmi yang sudah 20 tahun usaha membuat dan menjual lontong.

Lontong merupakan makanan olahan dari beras yang dibungkus daun pisang kemudian dikukus hingga mengembang.

Kebutuhan lontong di kota Surabaya cukup besar. Untuk menu pengganti nasi di makanan khas kota Surabaya, seperti lontong cak gomek, lontong balap, rujak cingur, tahu thek, sate ayam, dan lainnya.

Sejak 2015, pemerintah menggulirkan program jaringan gas bumi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk rumah tangga.

Sekitar 100 warga mendapat kesempatan pertama, termasuk warga di Kampung Lontong Surabaya ini.

Menurut Syukur, warga Gang X lainnya yang juga membuat dan penjual lontong, mereka bisa hemat Rp 25.000 per hari.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved