Berita Surabaya

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Sebut SKM Hanya Cocok untuk Topping, Bukan Pengganti ASI.

Iklan SKM sebagai susu sudah ada sejak hampir seabad silam dan tertanam kuat di benak masyarakat Indonesia sebagai susu bernutrisi

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Sebut SKM Hanya Cocok untuk Topping, Bukan Pengganti ASI.
istimewa
Diskusi bertajuk ‘Membangun Generasi Emas Indonesia 2045, Bijak menggunakan SKM’ di SMA Khadijah Surabaya. Diskusi digelar oleh YAICI bekerja sama dengan Muslimat NU. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin

SURYA.co.id | SURABAYA - Banyak ibu yang mempersepsikan susu kental manis (SKM) adalah susu, karena iklan yang dibuat produsen mengomunikasikan tentang SKM sebagai susu. Hal ini dikatakan Ketua Harian Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI ), Arif Hidayat, saat mengisi materi diskusi bertajuk ‘Membangun Generasi Emas Indonesia 2045, Bijak menggunakan SKM’ di SMA Khadijah, Surabaya Diskusi digelar oleh YAICI bekerja sama dengan Muslimat NU, Senin, (3/12/2018).

Arif menuturkan iklan SKM memvisualisasikan keluarga bahagia, anak yang lincah dan sehat, tengah minum SKM.

Pesan yang disampaikan pun SKM disebut minuman yang bernutrisi, bergizi dan baik untuk pertumbuhan.

"Iklan SKM sebagai susu sudah ada sejak hampir seabad silam dan tertanam kuat di benak masyarakat Indonesia sebagai susu bernutrisi, padahal kandungan yang ada tidak demikian" ujar Arif.

Dianggap Membohongi Masyarakat, Muslimat NU dan YAICI Rekomendasikan Iklan SKM Sebagai Susu Dihapus

Padahal, lanjut Arif, kandungan SKM yang diproduksi di Indonesia protein 2,3 persen lebih rendah dari ketentuan BPOM 6,5 persen, dan ketentuan WHO 6,9 persen.

Begitupun kandungan gula lebih tinggi yakni diatas 50 persen, padahal WHO mensyaratkan 20 persen.

"Jadi kalau minum SKM, bukan minum susu, tapi minum gula rasa susu," sambungnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso, menyatakan SKM hanya cocok untuk topping bukan untuk pengganti ASI.

Karena itu, konsumen perlu periksa kemasan. Baca label cek juga no izin edar/produksi.

Menurut dia, saat ini bukan hanya gizi buruk yang sedang dihadapi di Indonesia, melainkan gizi ganda. Lebih banyak penyakit tidak menular daripada penyakit menular.

Penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, stroke dan obesitas. Penyakit tidak menular disebabkan karena salah pola konsumsi dan gaya hidup tidak sehat.

"Saya mengapresiasi kegiatan sosialisasi SKM bukan susu, karena ini sangat penting agar masyarakat bisa teredukasi," kata Kohar.

Sementara itu,  Ketua VII Bidang Kesehatan Sosial PP Muslimat NU Erna Yulia Soefihara, mengatakan PP Muslimat NU akan terus mendorong jamaah muslimat untuk menyosialisasikan bijak menggunakan SKM.  

"Karena jamaah muslimat NU kan mayoritas ibu-ibu yang memiliki peran penting dalam hal edukasi.  Minimal di dalam keluarga ia bisa menginformasikan masalah untuk perbaikan gizi anak dan pencegahan stunting." kata Erna.

Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved