Sambang Kampung Menur Pumpungan

Termotivasi Menangkan Banyak Lomba, Lurah Nurul dan Kader Ajak Galakkan Hidroponik

Nurul, Yuli, serta 20 lebih ibu-ibu kader lain, mengakali dengan merangkul warga musiman. Setelah melihat hasil hidroponik, banyak warga tertarik.

Termotivasi Menangkan Banyak Lomba, Lurah Nurul dan Kader Ajak Galakkan Hidroponik
SURYAOnline/habibur rohman
PADAT PENDUDUK - Warga Menur Pumpungan memanfaatkan pembatas jalan sebagai lahan penghijauan. Area di atas saluran air juga dimanfaatkan sebagai lahan untuk tanaman hidroponik. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Selokan yang penuh sampah, kendaraan parkir sembarangan, sampai judi merpati, merupakan pemandangan lumrah di Menur Pumpungan, kala itu.

Nurul Muzayanah, Lurah kampung setempat, tak melupakan hari-hari saat daerah yang ia pimpin masih sangat kumuh. Sejak menjabat itulah, ia berjanji kepada diri sendiri.

"Saya sering melihat ke bawah, saya membatin, kampung ini harus hijau. Alhamdulillah, kini tiap lomba kami menang," tuturnya, akhir pekan lalu.

Sebelum bertugas, Menur Pumpungan belum pernah memenangkan lomba. Karena itu, ia bertekad mengubah keadaan.

"Mengubah mindset masyarakat memang susah. Tetapi syukur, kini ada delapan lomba yang kami menangi, seperti kampung hijau, pengolahan sampah, dan lain-lain. Waktu itu kami masuk kategori pengolahan sampah terbaik Surabaya pada Juli 2017," katanya.

Tak sendirian, Nurul dibantu Yuli Sutiningsih, warga yang menjadi kader pertanian Menur Pumpungan.Mereka mengajak masyarakat menggalakkan hidroponik, yang sebenarnya sudah ditekuni sejak lama.

"Hanya saja, dulu setiap ikut lomba tidak berhasil. Kami pun melihat-lihat kampung lain, apa sih kelebihan mereka? Dulu kami menganggap tidak jauh beda, ternyata inovasinya belum ada di kami," papar Yuli.

Halangan utama, wilayahnya didominasi warga pendatang dan anak kos. Sedang warga asli banyak yang bekerja.
Nurul, Yuli, serta 20 lebih ibu-ibu kader lain, mengakali dengan merangkul warga musiman. Setelah melihat hasil hidroponik, banyak warga yang tertarik.

"Tidak hanya asyik, ini termasuk media baru, warga bisa menghasilkan uang. Biasanya, hasil panen mereka jual ke warga lain, lalu pendapatan untuk beli bibit lagi," ungkapnya.

Tanaman hidroponik yang populer adalah sawi, selada, dan pakcoy merah. Ada pula yang menanam cabai, kangkung sampai terong.

Untuk toga, ada daun jeruk, kunyit, daun pandan, daun sirih, masih banyak lagi. "Harapannya, mereka konsumsi tidak lagi dari pasar, tapi dari hasil tanaman sendiri," ujar Yuli.

Kampung berkembang
Satu di antara warga yang mulai menanam hidroponik adalah Inge, warga RW 05. Ia mengaku, belum benar-benar sembuh dari kanker, sehingga harus konsumsi makanan sehat dan organik.

"Saya tidak bisa makan sembarangan, jadi sekarang makanan ya dari tanaman hidroponik yang saya kerjakan di rumah," ungkap Inge.

Kini, Menur Pumpungan semakin termotivasi untuk memenangkan berbagai perlombaan kota lainnya.
Apalagi, mereka baru saja masuk nominasi kampung berkembang. Nurul berkoordinasi dengan RT dan RW, mengajak masyarakat berpartisipasi aktif.

"Supaya bukan sekadar lomba, tapi benar-benar mengubah mindset lewat memenangkan lomba, dan kontinyu," pungkas Nurul.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved