Berita Surabaya

Wicaksono Wisnu Legowo Bagi Kiat Bikin Film di Festival Sinema Sekolah 2018

Menurut Wisnu, untuk membuat film tidak harus menekuni sekolah perfilman.

Wicaksono Wisnu Legowo Bagi Kiat Bikin Film di Festival Sinema Sekolah 2018
surya/sulvi sofiana
Wicaksono Wisnu Legowo, seniman muda asli Tegal, Jawa Tengah saat mengisi talkshow pada sejumlah finalis Festival Sinema Sekolah (FSS) 2018 di Balai Pemuda, Sabtu (24/11/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wicaksono Wisnu Legowo, seniman muda asli Tegal, Jawa Tengah, belakangan semakin dikenal di dunia perfilman Indonesia. Pasalnya, film berjudul Turah buatannya dikirim sebagai perwakilan Indonesia dalam ajang Piala Oscar 2018.

Wisnu, sapaan akrabnya hadir mengisi talkshow pada sejumlah finalis Festival Sinema Sekolah (FSS) 2018 di Balai Pemuda, Sabtu (24/11/2018).

"Saya sangat mengapresiasi ada provinsi yang memberi wadah siswa dalam membuat karya film. Coba kalau di Tegal ada," ungkapnya ketika membuka perbincangannya terkait film sebagai hobi yang menjadi pekerjaan.

Menurutnya, untuk membuat film tidak harus menekuni sekolah perfilman. Meskipun dirinya memutuskan berganti jurusan dari Ekonomi ke sekolah film karena daya tariknya yang cikup besar akan film.

"Sekolah atau kuliah jurusan film ini belajar teorinya. Orang yang tidak sekolah film juga bisa berkarya membuat film. Tapi teorinya harus belajar lebih lagi,"urainya.

Wicaksono bukan orang baru di industri film Tanah Air. Sebelum menjadi sutradara, ia kerap hadir sebagai asisten sutradara di beberapa film.

Sebut saja Doa 3 Cinta (2008), Sang Penari (2011), Rumah dan Musim Hujan (2012). Sedangkan Turah menjadi film panjang debutnya sebagai penulis dan sutradara.

“Turah adalah film panjang pertama saya sebagai penulis dan sutradara. Namun, saya sudah berpengalaman membuat beberapa film pendek sejak 2006. Dan saya juga menjadi asisten sutradara beberapa film panjang sejak 2008. Hal itulah yang membantu saya untuk menyederhanakan persoalan ketika menggarap film Turah,” ujarnya.

Untuk membuat film, menurutnya perlu pemahaman yang sama antara tiga orang penting. Mulai dari penulis skenario, produser dan sutradara harus mendiskusikan segalanya secara utuh.

"Baru kemudian mikirin kru, pemain, alat, waktu, pikiran, tenaga, dana untuk memikirkan pengembalian modal,"ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved