Berita Properti

10 Persen Konsumen Properti Surabaya Pilih Produk di Luar Negeri

Tak cukup mencari di dalam negeri, konsumen properti di Indonesia juga memburu aset-aset properti di Luar Negeri. Ini buktinya.

10 Persen Konsumen Properti Surabaya Pilih Produk di Luar Negeri
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Pameran properti luar negeri yang digelar di Ciputra World Surabaya, Selasa (20/11/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dua perusahaan agen pemasaran properti, Galaxy Property dan Raywhite Platinum Group bersinergi menggelar pameran World Property Insight di atrium Ciputra World Surabaya, mulai Senin (19/11/2018). Pameran ini menampilkan produk properti dari pengembang yang ada di luar negeri. Seperti Australia, Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand, Filipina, Dubai, Cyprus, Malta, Spanyol dan Inggris.

"Dalam empat tahun terakhir, kami menjual produk properti luar negeri ke pasar konsumen Indonesia. Ternyata peminatnya cukup lumayan. Hal ini yang mendasari kami menggelar kegiatan ini," kata Henry Nugroho, Principal Galaxy Sumatera, didampingi Bambang Budiono, Principal dari Raywahite Satelit, sebagai pencetus kegiatan, di sela pameran yang dibuka Selasa (20/11/2018).

Pameran produk properti luar negeri, sudah mereka gelar di tahun 2017. Respon pasar di tahun itu cukup positif. Bahkan imbas dari kegiatan itu, dalam dua tahun terakhir, kedua perusahaan ini sudah menjual produk properti luar negeri sekitar 78 unit.

"Sementara secara nasional, tahun ini tercatat ada 200 unit properti di luar negeri yang konsumennya adalah WNI," tambah Bambang.

Dari seluruh konsumen dari properti yang dijual oleh dua perusahaan pemasar ini, rata-rata per tahunnya ada 10 persen adalah produk luar negeri. Produk dalam negeri masih mayoritas atau mencapai 90 persen.

"Meski 10 persen, nilai itu cukup antusias. Apalagi produk yang dibeli mulai dari harga Rp 1,5 miliar hingga Rp 66 miliar. Dan itu adalah warga negara Indonesia," lanjut Henry.

Ada tiga alasan dari konsumen WNI yang melakukan pembelian properti di luar negeri. Pertama, karena anak-anaknya sedang sekolah atau akan sekolah di negeri tersebut. Kedua, mereka berencana menghabiskan masa tua di negeri tersebut. Ketiga, sebagai deversifikasi invetasi diluar negeri.

"Saat ini yang favorit adalah Australia dan Malaysia. Di Australia karena lembaga pendidikan banyak dan murah, seperti di Melbourne, Brisbane dan Darwin. Juga Sidney. Sementara di Malaysia, ada di Johor," jelas Bambang.

Dalam pameran yang digelar hingga Minggu (25/11/2018) itu, ditargetkan bisa mencapai 1000 kelompok pengunjung prospek yang akan menjadi pembeli produk di luar negeri. Dalam kegiatan yang digelar di tahun 2017, dengan lokasi terbatas hanya di hal hotel, selama dua hari pameran ada sekitar 350 pengunjung prospektif.

"Apalagi dalam pameran yang digelar terbuka ini, tidak hanya membidik pembeli, kami juga menggelar edukasi ke konsumen, tentang menariknya invetasi produk di luar negeri," ungkap Bambang.

Misalnya, biaya pajak (tax) pembelian properti bagi warga asing di negara tertentu yang cukup murah. Misalnya di Johor, Malaysia yang pada produk-produk tertentu memberlakukan free tax (bebas pajak) pembelian.

Kemudian suku bunga kredit KPR di bank negara tujuan ada yang hanya 2 persen. Biaya kuliah di Eropa, yang ternyata hanya 1.000 euro per tahun, yang bila dibandingkan dengan kampus favorit di Surabaya masih lebih murah hingga 50 persen. Dan lain sebagainya.

"Apalagi selama pameran, developer maupun agen pemasar dari luar negeri, juga memberikan penawaran dan promo yang menarik. Kami optimis target akan tercapai," tandas Henry.

Tags
properti
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved