Berita Surabaya

Aku Memilih Bahagia, Buku tentang Kisah Nyata Perjuangan 22 Perempuan Mandiri

Ada 22 perempuan yang menulis kisah nyata tentang hidup dan perjuangan mereka dalam buku ini.

Aku Memilih Bahagia, Buku tentang Kisah Nyata Perjuangan 22 Perempuan Mandiri
surya/habibur rohman
Para penulis buku Äku Memilih Bahagia" pada peluncuran di V Junction Ciputra World Surabaya, Kamis (8/11/2018). Buku ketiga dari seri Single Fighter Woman "Hidup Ini Indah, Beib" (HIIB) oleh 22 penulis perempuan ini membahas "Merayakan" Kelajangan dengan Bahagia yang menceritakan sebagian kehidupan para penulis. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Menjadi single fighter, bukan akhir hidup bagi perempuan. Sebaliknya, perempuan bisa membuktikan bahwa ‘single’ mampu membuatnya kuat dan mandiri. Ini yang jadi pengalaman 22 perempuan, yang kemudian menulis buku bertajuk ‘Aku Memilih Bahagia’ ini.

Belasan perempuan dengan busana ungu tampak dominan di panggung V Junction Ciputra World Surabaya (CWS). Senyum merekah tak henti-hentinya ditebar, ketika ada pengunjung yang meminta tandatangan pada buku ‘Aku Memilih Bahagia’ itu.

Ada 22 perempuan yang menulis kisah nyata tentang hidup dan perjuangan mereka dalam buku ini. Buku ini adalah buku ketiga dari serial ‘Hidup Ini Indah, Beib’, lewat gagasan Wina Bojonegoro, Didi Cahya dan Heti Palestina Yunani.

Sebelumnya, sudah terbit seri pertama pada 2014 berjudul sama dan berjudul ‘Otot Kawat Balung Wesi’ pada 2016.

Membahas tentang Single Fighter Woman, semua penulis adalah perempuan single atau lajang.

Pemahaman lajang ini tak hanya sebagai status, tapi ada juga perempuan yang sudah menikah namun jadi lajang lagi, dan perempuan yang menikah tapi tetap merasa lajang.

“Para perempuan ini harus berjuang sendiri dalam hidupnya, termasuk mencari nafkah,” jelas salah seorang penulis dan penggagas, Wina Bojonegoro, Kamis (8/11/2018).

Selama ini, apa yang dilakukan sebagian perempuan adalah menikah, agar bisa mendapat uang atau nafkah dari suami.

Namun ini tak berlaku bagi 22 perempuan ini, di mana mereka tetap bisa menjalani kehidupan bersama keluarga, meski tanpa bantuan pasangan hidup.

“Kami melihat, pernikahan bukan solusi terpenting bagi perempuan, karena kami membuktikan bisa mencari uang sendiri, meski menjalani dengan berat,” tambah Didi Cahya, seorang penggagas buku ini.

Halaman
12
Penulis: Sudharma Adi
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved