Berita Sumenep Madura

Harga Garam di Sumenep Madura Terus Anjlok, Faktor ini Disebut Penyebabnya

Memasuki puncak panen garam Madura khususnya di Kabupaten Sumenep, pada awal November 2018 ini, harganya terus anjlok.

Harga Garam di Sumenep Madura Terus Anjlok, Faktor ini Disebut Penyebabnya
surya.co.id/rivai
Stok garam di pegaraman Desa Pinggir Papas, dan Marengan masih melimpah di akhir musim panen tahun ini. 

SURYA.co.id | SUMENEP  - Memasuki puncak panen garam Madura khususnya di Kabupaten Sumenep, pada awal November 2018 ini, harganya justru terus anjlok.

Sebelumnya harga garam berada di kisaran Rp 2.500 per kilogram, lalu turun menjadi Rp 2.000 per kilogram dan hingga akhir Oktober lalu harga garam rakyat hanya Rp 800 per kilogramnya.

Harga di akhir musim ini pun merupakan yang terendah dari tahun lalu. Karena pada akhir musim panen tahun 2017 lalu, harga garam masih berada di posisi Rp 2.000 per kilogramnya.

Tahun 2018 diperkirakan akan terus turun karena panjangnya masa musim kemarau sehingga produksi garam melimpah.

Muzammil (37) petanu garam asal Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, kepada Surya.co.id, mengaku tahun ini harga garam turun secara bertahap, mulai dari Rp 2.500, kemudian turun lagi ke level Rp 2.000, dan awal September harga menjadi dibawah Rp 1.500 per kilogram, hingga akhir Oktober ini menjadi Rp 800 perkilogram, bahkan masih diperkirakan akan turun lagi, hingga musim hujan tiba.

“ Kami sudah memperkirakan harga garam akan terus turun pada akhir musim tahun ini. Dan terbukti harga garam hinggi menjelang akhir musim tahun akan terus merosot,” kata Zammil penggilan akrabnya.

Menurutnya, anjloknya harga garam saat ini disebabkan hasil panen di sejumlah daerah yang melimpah, selain di Madura, terutama di Jawa Tengah, NTB, dan di beberapa daerah penghasil garam lainnya.

Sehingga pihak perusahaan pembeli garam rakyat mengalami stok melimpah dan bahkan sebagian stok perusahannya terpenuhi.

“ Makanya kami berharap petani garam harus berani menyimpan garam hasil panennya di gudang, sambil menunggu harga garam kembali membaik, baru kita lepas,” sambungnya.

Haris Anshori (45) pengamat ekonomi garam rakyat asal Sumenep, mengatakan, persoalan baik turunnya harga garam rakyat tidak lepas dari karena Faktor Demand and Supply saja. Karena harga garam mengalami pasang surut itu terjadi disaat panen. Harga garam turun karena stoknya banyak. Lalu pada saat musim hujan, harga garam melambung karena stok di perusahaannya menipis.

“ Itu sudah biasa terjadi setiap tahunnya, dan di kala-kala tertentu atau di musim tertentu saja,” kata Haris, Minggu (4/11/2018).

Untuk mengantisipasi terus berlanjutnya pasang surut harga garam, Haris menilai bahwa PT Garam Persero, sebagai BUMN harus diterjunkan langsung menjaga stabilitas harga garam. Yakni dengan membuka peluang penyimpanan hasil garam rakyat pada saat musim hujan tiba.

Stok garam di gudang PT Garam harus bisa dijaga betul untuk difungsikan sebagai gudang penyimpanan yang berpihak kepada rakyat.

“ Kalau ini dilakukan, maka kami yakin harga garam disaat apapun akan tetap mahal dan stabil,” pungkas Haris.

Penulis: Moh Rivai
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved