Berita Surabaya

Sejumlah Mahasiswa Korban Gempa Palu Lanjutkan Kuliah di Surabaya, Nikita Pilih Uniar Alasan ini

Gempa dan tsunami yang melanda Palu-Donggala menyisakan trauma bagi banyak orang. Termasuk para mahasiswa Universitas Tadulako, Palu.

Sejumlah Mahasiswa Korban Gempa Palu Lanjutkan Kuliah di Surabaya, Nikita Pilih Uniar Alasan ini
surya.co.id/sulvi sofiana
Sejumlah mahasiswa Tadulako Palu yang melanjutkan perkuliahan sementara di Unair foto bersama Rektor Prof Moh Nasih, Rabu (31/10/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Gempa dan tsunami yang melanda Palu-Donggala menyisakan trauma bagi banyak orang. Termasuk para mahasiswa Universitas Tadulako, Palu yang saat kejadian berada di sekitar kampus.

Kondisi kampus yang hampir 75 persen rusak membuat mereka memilih menempuh studi sementara di Universitas Airlangga.

Nikita Syahrin Maqfira (18) salah satunya, mahasiswa sekaligus atlet Karate ini sedang berada di tempat latihan sekitar kampus saat kejadian gempa. Ia pun melihat tanah terbelah dan banyak bangunan roboh saat perjalanan pulang ke rumahnya.

“Keluarga saya ingin saya tetap melanjutkan kuliah, karena belum bisa di Palu, makanya saya disuruh ke Surabaya karena ada keluarga dari ibu di Perak,” ujarnya ketika ditemui SURYA.co.id, Rabu (31/10/2018) usai menemui rektor Unair.

Ia mengungkapkan sempat mencari tempat latihan Karate di Surabaya karena harus bersiap bertanding untuk Pekan Olahraga Daerah. Namun, ia sudah dihimbau kembali ke Palu untuk latihan di Palu.

“Masih dipertimbangkan untuknkembali, karena di Palu kuliah juga masih pakai tenda,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Vianney Glorvina (18), mahasiswa fakultas hukum Universitas Tadulako, Palu yang melihat gempa terjadi sata akan mengikuti kegiatan UKM kampusnya. Iapun memilih kembali ke orang tuanya di Sidoarjo.

“Saya di Palu sama oma dan keluarga Om, puji Tuhan semuanya selamat. Jadi saya pilih pulang ke Sidoarjo dan sementara kuliah di Unair, karena masih trauma dengan gempa-gempa susulan,” urainya.

Menurutnya, gempa yang dialami tak hanya membuatnya terhempas ke kiri dan ke kanan. Bahkan gerakan tanah keatas dan kebawah membuatnya kesulitan berjalan.

“Seminggu setelah gempa saya ke Surabaya, dan kebetulan bisa melanjutkan di Uanir untuk sementara. Di Palu tanggal 5 November sudah kuliah lagi, tapi masih di tenda,”urainya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved