Berita Surabaya

IDI Jatim Akan Selidiki Dugaan Pelanggaran Oknum Dokter RSUD dr Soetomo

IDI Jatim akan menyelidiki dan meminta keterangan oknum dokter RSUD dr Soetomo yang diduga melakukan pelecehan seksual pada kopilot yang jadi pasien

IDI Jatim Akan Selidiki Dugaan Pelanggaran Oknum Dokter RSUD dr Soetomo
ist
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ikatan Dokter Indonesia Jawa Timur akan melakukan penyelidikan dan pendalaman terhadap oknum dokter RSU dr Soetomo yang diduga melakukan pelecehan pada PJ (23) kopilot airlines swasta pada (24/10/2018) lalu.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim, Poernomo Boedi mengungkapkan, hingga saat ini belum mendapatkan laporan. Tapi IDI akan mempersiapkan pasal-pasal yang mungkin dianggap melanggar oleh pasien.

"Jadi intinya kami siapkan apakah ada aduan dari pasien yang menyatakan ada pelanggaran oleh dokter," urainya saat dikonfirmasi, Selasa (30/10/2018).

Ia mengungkapkan pada dasarnya setiap dokter melakukan tindakan medis harus dengan persetujuan pasien, baik itu pengambilan gambar maupun tindakan operasi.

"Semua tindakan tidak harus difoto, dioperasi harus dengan persetujuan pasien. Karena itu hak privasi pasien. Seberat apapun saya tidak mau disuntik atau nggak mau diapa-apakan harus dengan persetujuan pasien. Itu bisa dalam lisan maupun tertulis," urainya.

Ia juga menyarankan dalam persetujuan penolakan untuk pemeriksaan medis, alangkah baiknya harus ada saksi dari pihak keluarga yang ikut menyatakan setuju atau tidak.

"Kalau ada pemeriksaan seringan apapun kepada pasien, harusnya diminta untuk melakukan tanda tangan atas keberatan terlebih dahulu. Biar tidak dianggap dibawah standar. Misal kalau untuk foto, harusnya ditanya dulu keperluannya apa. Misal untuk keperluan visum ya memang harus dilakukan foto. Karena untuk foto itu akan dijadikan untuk bukti laporan di kepolisian atau foto sebelum dan sesudah operasi," paparnya.

Saat ditanya apakah foto-foto yang diambil oleh oknum dokter tersebut disebar. Poernomo mengatakan jika foto-foto yang diambil, diedarkan tidak sesuai dengan semestinya, itu tidak diperbolehkan.

"Kalau foto-foto tersebut diedarkan tidak sesuai dengan tujuan itu tidak boleh. Kalau edarkan tidak semestinya itu salah. Secara umum kalau rahasia jabatan itu boleh dibuka itu salah dan melanggar rahasia jabatan," ungkap Poernomo Boedi.

Sebelumnya, pihak keluarga PJ melalui pengacara melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada pihak kepolisian. Dari laporan tersebut, korban menolak untuk diambil foto untuk kepentingan medis. Pahadal korban sempat menolak tiga kali agar tidak dipotret. Namun, oknum dokter tersebut masih memakasakan untuk mengambil gambar.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved