Berita Surabaya

Peduli Kanker Payudara, Ibu-ibu Dharma Wanita dan Istri Camat Berlomba Gambar Sarung Bantal

Untuk menunjukkan kepedulian terhadap kanker payudara, puluhan perempuan Dharma Wanita di Surabaya berlomba melukis di sarung bantal.

Peduli Kanker Payudara, Ibu-ibu Dharma Wanita dan Istri Camat Berlomba Gambar Sarung Bantal
surabaya.tribunnews.com/delya oktovie
Para perempuan anggota Dharma Wanita serta istri para camat Surabaya, berloma-lomba membuat doodle di atas sarung bantal. Acara ini digelar oleh Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya berkerja sama dengan Leeven and Co, untuk memperingati Breast Cancer Awareness di mal Ciputra World Surabaya, Senin (29/10/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Puluhan perempuan berkumpul di Atrium Rotunda Lt. 3 mal Ciputra World Surabaya, Senin (29/10/2018) siang.

Tangan-tangannya sibuk menggoreskan spidol khusus kain di atas sarung bantal yang terbuat dari blacu, sedang bibirnya sibuk berceloteh seru dengan kawan satu meja.

Para perempuan ini tengah mengikuti Pillow Decorating Competition yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Surabaya bersama Leeven and Co, sebagai rangkaian acara ‘Hold My Hand: Pekan Peduli Kanker Payudara, Dari Perempuan untuk Perempuan’.

“Tadi ada yang tanya pada saya, ‘aduh, mbak, saya ini sehari-hari kerjanya hanya mengetik di komputer dan memasukkan surat ke dalam amplop, kok disuruh menggambar?” cerita Etha Linda dari Leeven and Co yang membantu DWP menggelar kegiatan ini.

Namun menurutnya, justru ini maksud dari diadakannya kegiatan ini.

Selain mengeluarkan kreativitas yang selama ini terpendam akibat rutinitas kerja, para peserta juga bisa menyemangati perempuan lain yang belum maupun sudah terkena kanker payudara.

“Kami memang sengaja menggelar acara ini untuk memperingati breast cancer. Yang ikut ibu-ibu istri camat dari 31 kecamatan, 19 dinas, dan 9 bagian di bawah sekretaris daerah,” jelas Iis Hendro Gunawan, Ketua DWP.

Sejak awal acara, Iis sudah menjelaskan bahwa doodle yang dibuat harus menunjukkan semangat melawan kanker payudara, bisa berupa gambar saja atau tulisan-tulisan bernada positif.

Menurutnya, cara ini tak hanya efektif membuat para perempuan sadar sejak dini bahaya kanker payudara, tetapi juga tak lantas putus asa ketika divonis.

“Kita harus aware terhadap yang belum kena kanker payudara juga yang sudah. Ini kan bukan penyakit menular, tetapi perlu diantisipasi. Penderita kanker payudara tidak harus meninggal, bisa disembuhkan. Maka dari itu kami jelaskan harus lakukan SADARI,” terang Iis.

Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved