Pilpres 2019

Jokowi Mengaku Kesal dengan Dua Hal ini yang Tersebar di Media Sosial

Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo mengaku ada banyak serangan kampanye hitam terhadap dirinya.

Jokowi Mengaku Kesal dengan Dua Hal ini yang Tersebar di Media Sosial
surya.co.id/fatimatuz zahro
Capres nomor urut 01 Joko Widodo menghadiri acara Apel Siaga Pemenangan Partai NasDem Jatim serta Pengukuhan Kostranas (Komando Strategis NasDem) Jawa Timur di Jatim Expo, Minggu (28/10/2018).  

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo mengaku ada banyak serangan kampanye hitam terhadap dirinya. Terutama yang membawa isu agama bahkan hingga menyebut dirinya seorang PKI.

Tak ayal hal tersebut membuat Jokowi jengkel dan menyayangkan masih adanya pihak yang menggunakan kampanye hitam, fitnah, dan hoax.

"Banyak yang menyebut Jokowi itu PKI. Padahal saya lahir tahun 1961 dan PKI dibubarkan 1965-1966, lha umur saya kan masih empat hingha lima tahun. PKI balita itu nggak ada, masa ada PKI Balita," ucap Jokowi di acara Apel Siaga Pemenangan Partai NasDem Jawa Timur serta Pengukuhan Kostranas (Komando Strategis NasDem) Jawa Timur di Jatim Expo, Minggu (28/10/2018).

Jokowi mengaku terkadang juga jengkel dengan segala informasi yang berseliweran di media sosial. Terlebih baru-baru ini juga ada foto saat DN Aidit yang berpidato.

Foto itu diambil di tahun 1955. Dalam foto tersebut, terdapat pemuda yang diberi lingkaran kuning. Di medsos, pemuda itu disebut mirip dengan Jokowi.

Sehingga ramai di medsos bahwa Jokowi adalah antek PKI, sehingga kampanye hitam begitu cepat menyebar.

"Saya kadang juga jengkel di medsos. DN Aidit pidato di tahun 1955. Di dekat dia ada saya coba. Di gambarnya kok ya mirip saya. Cara-cara ini adalah politik ... (sotoloyo)," ucap Jokowi yang kemudian di akhir kalimat dilengkapkan oleh para kader Nasdem yang hadir di Jatim Expo.

Jokowi juga menyebutkan isu yang menyebutkan dirinya telah melakukan kriminalisasi ulama.

Ia sendiri mengaku bingung mengapa kriminalisasi ulama juga menyasar padanya.

Jokowi mengaku setiap hari bersama - sama dengan ulama. Bahkan setiap pekan juga masuk ke pondok pesantren.

"Bahkan cawapresnya adalah topnya ulama Indonesia, Ketua Majelis Ulama Indonesia. Kok kriminalisasi ulama ini mana lagi. Itulah lagi yang namanya politik...(sontoloyo)," ucap Jokowi sengaja menggantung kalimat untuk diteruskan oleh audiens.

Kampanye kotor, menyebar fitnah dan hoax diharapkan Jokowi bisa hilang. Sebab hal tersebut tidak mendewasakan proses demokrasi Indonesia.

"Jangan rakyat dibohongi dengan data-data yang ngawur. Itu makanya yang saya bilang politik sontoloyo ya itu," tegas Jokowi.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved