Berita Surabaya

Pelajari Budaya Korea Mulai Dari Menulis Hangeul

Kegiatan ini untuk memperingati hari Hangeul yang ke-57, sekaligus upaya memperkenalkan budaya Korea melalui kesenian puisi Korea.

Pelajari Budaya Korea Mulai Dari Menulis Hangeul
SURYA.co.id/ Habibur Rohman
KOREA CANTIK - Peserta mempercantik tulisan pada lomba menulis cantik Hangeul di UK Petra, Sabtu (20/11/2018). Lomba yang diikut 105 peserta umum ini untuk memperkenalkan budaya Korea sekaligus memperingati Hari Hangeul (Tulisan Korea) yang ke 572. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tren budaya Korea Selatan telah banyak dikenal di Indonesia. Tak hanya film dan musiknya saja, berbagai budaya tradisional mulai dipelajari oleh orang Indonesia. Salah satunya menulis aksara Korea selatan atau yang dikenal dengan Hangeul.

Meskipun secara formal belum banyak dipelajari, tetapi minat untuk bisa memahami aksara korea cukup besar.

Hal ini terlihat dari 105 peserta yang mengikuti lomba menulis aksara korea ini di UK Petra, Sabtu (20/10/2018).

Eka Ningrum (19), peserta lomba asal Gresik mengungkapkan ini pertama kalinya ia mengikuti lomba menulis aksara korea. Ia pun belajar menulis Hangeul melalui internet.

"Suka Korea sih, jadi ya pingin bisa baca dan belajar nulis aksaranya. Memang sulit tapi seru,"ungkapnya.

Ia pun cukup senang dengan perlombaan yang bisa mengumpulkan penyuka tulisan Korea dari berbagai daerah.

Liliek Soelistyo, kepala King Sejong Institute (KSI) Surabaya di UK Petra mengungkapkan kegiatan ini untuk memperingati hari Hangeul yang ke-572. Sekaligus upaya memperkenalkan budaya Korea melalui kesenian puisi Korea.

"Para peserta diberi waktu selama satu jam untuk menulis puisi dalam huruf Hangeul yang sudah dipilih oleh KSI pada kertas yang telah disediakan,"ungkapnya.

Puisi Korea, lanjutnya, terkenal memiliki makna yang indah. Salah satunya puisi ciptaan Kim Chun Su, seorang penyair terkemuka asal Korea Selatan pada akhir abad 20-an, berjudul 꽃 (Kkot, Bunga) yang akan menjadi bahan materi yang dilombakan.

"Puisi ini ditulis saat perang saudara Korea, menunjukkan keinginan seseorang untuk menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain, dengan memanggil nama orang tersebut yang diibaratkan sebagai “bunga”,"paparnya.

Dyah Sekarini H, salah satu staff dari KSI Surabaya menambahkan ada tiga kriteria pemenang dalam lomba menulis puisi dalam tulisan Hangeul ini. Yaitu memiliki tulisan tangan terbaik tetapi bukan kaligrafi, melainkan tulisan tangan rapi dan hiasan atau gambar di kertas yang terlihat cantik serta menarik sesuai dengan arti puisi.

"Kami menghadirkan lima juri yang diantaranya orang Korea langsung. Kami juga mengenalkan jajanan korea selama kompetisi,"pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved