Rumah Politik Jatim

Sandiaga Uno Dinilai Sering Bawa Narasi Pesimistis, Pengamat : Harusnya Berikan Narasi Menggairahkan

Sandiaga Uno selaku Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02 beberapa kali melontarkan narasi politik "dapur".

Sandiaga Uno Dinilai Sering Bawa Narasi Pesimistis, Pengamat : Harusnya Berikan Narasi Menggairahkan
surya/istimewa
Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo, Surokim Abdussalam 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sandiaga Uno selaku Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02 beberapa kali melontarkan narasi politik "dapur" pada Pilpres 2019 ini.

Mulai dari kata tempe setipis ATM hingga membandingkan harga nasi ayam di Indonesia dengan di Singapura.

Namun, ternyata narasi politik dapur yang dibawakan Sandiaga Uno itu dinilai membawa ke arah yang pesimistis, yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang calon pemimpin.

Hal tersebut diungkapkan oleh Pengamat Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, Rabu (17/10/2018).

Surokim Abdussalam menjelaskan memang narasi politik dapur yang dilontarkan kerap memantik perhatian, dan memang itu yang diinginkan.

Namun, seyogyanya narasi yang digunakan sesuai dengan nalar publik yang positif, yang berisi unsur optimistis.

"Saya menilai, kalau penantang (Prabowo-Sandi) itu membangun narasi-narasi yang pesimistis, itu cukup memberatkan untuk mengontrol elektabilitas. Jadi, mestinya narasi yang dibangun adalah narasi yang menggairahkan, yang bisa menimbulkan optimistis di Indonesia," jelas Surokim Abdussalam kepada TribunJatim.com (grup SURYA.co.id), Rabu (17/10/2018).

Surokim Abdussalam menjelaskan jika publik disuguhkan dengan narasi pesimistis, maka membuat masyarakat tidak respect.

Surokim Abdussalam mencontohkan, di Malaysia Mahathir Mohamad terus menebarkan optimisme saat kampanye, akhirnya membuat dirinya terpilih kembali sebagai perdana menteri Malaysia.

"Faktor di Malaysia, sentimen begitu yang menciptakan orang-orang pribumi berbalik mendukung Mahathir Muhammad. Menurut saya, Sandiaga harus belajar untuk membangun narasi yang optimis, jangan narasi yang pesimis, apalagi yang membuat masyarkat menjadi sensitif dan tidak respect," ujarnya.

Surokim Abdussalam yang juga peneliti Surabaya Survey Center (SSC) itu menyarankan agar pasangan Prabowo-Sandi yang menjadi penantang petahana harus bisa memberikan alternatif terbaik bagi rakyat.

"Menjadi penantang itu harus bisa memberikan alternatif terbaik yang bisa memberi harapan-harapan baru, tidak kemudian memunculkan pesimisme baru," pungkasnya. (Aqwamit Torik)

Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved