Berita Surabaya

Usai Gempa Situbondo, Pemkot Surabaya Kerjasama dengan ITS Lakukan untuk Lakukan Ini

Eri Cahyadi menambahkan sebenarnya Pemkot Surabaya sudah mengetahui titik sesarnya.

Usai Gempa Situbondo, Pemkot Surabaya Kerjasama dengan ITS Lakukan untuk Lakukan Ini
surya/rorry nurmawati
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Usai gempa di beberapa daerah di Jawa Timur, Kamis (12/10/2018) dini hari, Pemkot Surabaya melakukan komunikasi dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Hal ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi, saat ditemui Surya.co.id di Kantor DPRD Kota Surabaya, Jumat (12/10/2018).

Eri menjelaskan sudah mengetahui ada patahan atau sesar di Waru dan di Surabaya. Sesar Waru mulai Waru, Sidoarjo, Jombang, Karah, Nganjuk, sedangkan sesar Surabaya posisinya di Karangpilang, Mayjen Sungkono, ke arah Cerme, Gresik.

"Kami memang bekerjasama dan meminta ITS menentukan, kalau kita sondir boring seluruh tanah di semua kelurahan di Surabaya untuk dilakukan penelitian," kata Eri membenarkan.

Mantan Kepala Dinas Cipta Karya & Tata Ruang Kota Surabaya ini menjelaskan dengan cara tersebut, Pemkot Surabaya bisa mengetahui kodisi tanah di Surabaya seperti apa.

"Jadi gempa ini bisa diatasi ketika tanah dan bangunan dalam kondisi baik. Sehingga dampak tidak terlalu besar," tegasnya.

Eri menambahkan sebenarnya Pemkot Surabaya sudah mengetahui titik sesarnya. Namun seperti yang disampaikan Dr Ir Amien Widodo MSi, Dosen Teknik Geofisika ITS, peta ini bisa disampaikan ketika sudah ada rilis resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Kami sudah tahu petanya, tapi untuk mengetahui resmi dari kementerian baru November. Jadi sambil menunggu itu kami sudah lakukan sondir boring di seluruh kelurahan di Surabaya dengan peta sementara, jadi nanti perbaikan tanahnya di masing-masing kelurahan akan berbeda," terang Eri yang mengaku sudah melakukan kajian dengan ITS mulai Jumat kemarin.

Seperti yang diberitakan kemarin, gempa di Jawa Timur adalah normal terjadi karena ada patahan atau sesar di sejumlah daerah di Jatim.

Gempa yang terjadi Kamis (11/10) dini hari berpusat di tengah Selat Madura, sehingga Sumenep menjadi daerah yang paling berdampak.

Dr Ir Amien Widodo MSi, menjelaskan, berdasarkan keterangan yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) awal September tahun lalu, ada dua patahan aktif yang melewati Kota Surabaya dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur.

Kedua patahan itu yakni patahan Surabaya dan patahan Waru. Patahan Surabaya meliputi kawasan Keputih hingga Cerme.

Sedangkan patahan Waru yang lebih panjang lagi melewati Rungkut, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Saradan, bahkan sampai Cepu.

Sesar ini tidak boleh tidak dianggap serius, karena bisa merusak bangunan dan merugikan warga. Belum lagi dalam sejarahnya gempa besar pernah terjadi di Surabaya pada tahun 1867 dan di Ploso Mojokerto 1836.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved