Berita Madiun

Dolar Naik, Pengusaha Tempe di Kota Madiun Perkecil Ukuran Tempe

Pengusaha tempe di Madiun mengambil langkah rasional dengan memperkecil ukuran tempe akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

Dolar Naik, Pengusaha Tempe di Kota Madiun Perkecil Ukuran Tempe
surabaya.tribunnews.com/rahadian bagus
Perajin tempe di Kelurahan Kelun, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, terpaksa memperkecil ukuran tempe agar tetap untung (12/10/2018) 

SURYA.co.id|MADIUN - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengakibatkan harga kedelai mengalami kenaikan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (12/10/2018) menguat ke level Rp 15.218 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 15.235 per dolar AS.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sejak beberapa bulan yang lalu ini menyebabkan harga kedelai yang sekitar tiga bulan lalu sekitar Rp 6.500 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp 7.500 per kilogram.

Tingginya harga kedelai, dikeluhkan sejumlah pembuat tempe di Kota Madiun, tepatnya di Kelurahan Kelun, Kecamatan Kartoharjo. Di Kelurahan Kelun terdapat puluhan pengusaha tempe rumahan yang menggunakan kedelai impor sebagai bahan utama pembuatan tempe.

Maryati (55) anggota Kelompok Usaha Bersama, Kelun Lestari mengaku terpaksa mengurangi atau memperkecil ukuran tempe buatannya. Caranya, dengan mengurangi takaran kedelai yang dikemas ke dalam plastik, atau daun pisang.

Ia terpaksa melakukan agar tetap mendapatkan untung. Sebab, apabila ia menaikan harga tempe untuk menyesuaikan kenaikan harga kedelai, tidak ada konsumen yang mau membeli tempenya. Maka dari itu, ia mengurangi ukuran tempe, namun tidak menaikkan harga jual tempe.

"Ukurannya semakin kecil, dikurangi sedikit. Tetapi harganya tetap sama, tidak naik," kata wanita yang sudah puluhan tahun berjualan tempe ini daat ditemui di rumahnya, Jalan Jenggolo Manik, RT 23/RW5 Kelurahan Kelun, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jumat (12/10/2018) siang.

Ibu dua anak ini menuturkan, sehingga meski harga kedelai impor naik, namun harga tempe produksinya tetap sama. Untuk tempe ukuran sebesar telapak tangan, yang dibungkus daun pisang dijual Rp 500 per bungkus. Sedangkan tempe yang dikemas dalam plastik ukuran setengah kilo, dijual Rp 4.000 per bungkus.

Namun, wanita ini enggan menyebutkan berapa keuntungan atau omset per hari yang dia usaha tempenya.

"Saya nggak pernah menghitung, sebab sebagian uangnya juga dipakai untuk kebutuhan sehari-hari," kata nenek dua cucu ini.

Senada juga dikatakan, perajin tempe lainnya, Suyadi (70). Dia mengaku, sejak kedelai impor mengalami kenaikan harga, ukuran tempe produksinya diperkecil.

Hal ini ia lakukan supaya tempe produksinya tetap laku di pasaran. "Untung sedikit tidak apa-apa, yang penting modal," katanya.

Dia berharap pemerintah agar segera menstabilkan harga kedelai impor. Sebab, selama ini para perajin tempe menggantungkan nasibnya kepada kedelai impor yang memiliki daya tahan lebih lama dibanding kedelai lokal, ketika diolah menjadi tempe.

"Jadi kalau kedelai naik, otomatis untung kami turun. Sebab harga bahan bakunya tinggi," kata Suyadi. 

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved