Sabtu, 2 Mei 2026

Ekonomi Bisnis

Persaingan Pasar Semakin Ketat, Club Pilih Pertahankan Harga

produsen dan distributor AMDK merek Club, menyatakan tidak akan menaikan harga meski terimbas fluktuasi nilai mata uang tersebut

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
surya/sugiharto
Hendra Widjaja, Business Unit Manager PT Tirta Sukses Perkasa (Indofood Group) menjelaskan program baru yang digelar guna mendongkrak penjualan air minum dalam kemasan. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) mulai terkena dampak pelemahan rupiah. Hal ini karena harga bahan baku plastik dan kotak karton untuk produk botol dan gelas (cup) mengikuti nilai tukar (kurs) dolar Amerika Serikat (AS).

Kendati demikian, produsen dan distributor AMDK merek Club, menyatakan tidak akan menaikan harga meski terimbas fluktuasi nilai mata uang tersebut.

"Industri AMDK biaya paling banyak adalah plastik kemasan yang mencapai 60 persen. Sementara bahan baku plastik kemasan dan kotak karton masih impor," jelas Hendra Widjaja, Business Unit Manager PT Tirta Sukses Perkasa (Indofood Group), saat ditemui di Surabaya, Jumat (5/10/2018).

Dengan mempertahankan harga, maka Club harus mendorong peningkatan penjualan. Salah satu upaya yang dilakukan dengan menggelar program berhadiah.

"Sejak September sampai akhir November mendatang kami ada program Go Win 2018. Gosok-gosok Pasti Win!," ujar Hendra.

Dengan program ini, pihaknya berharap bisa menarik lebih banyak konsumen. Karena mereka berpeluang mendapatkan hadiah berupa ratusan unit sepeda motor, dan uang tunai yang total mencapai miliaran rupiah.

"Kemarin sudah ada konsumen yang beruntung. Membeli Club kemasan karton, ibu rumah tangga, ada kupon di dalamnya, digosok dan beruntung dapat Rp 500.000," jelas Hendra.

Sebenarnya pasar yang dibidik adalah penjual retail yang menjual produk dengan mendisplay di warung, toko kelontong dan sejenisnya.

Namun, pasar AMDK gelas, ternyata saat ini menjadi penyumbang terbesar penjualan Club dengan tidak terbatas pedagang.

"Konsumen rumahan juga sudah banyak. Sekarang tamu yang datang ke rumah, bahkan konsumsi minum air putih di rumah sudah sedia AMDK cup atau gelas," lanjut Hendra.

Sementara untuk produk botol dan galon, masih menjadi penyumbang kedua dan ketiga. Persaingan pasar AMDK galon, saat ini masih air galon isi ulang. Meski pasar mereka sudah ada tersendiri.

Inovasi lain yang dilakukan Club, menurut Hendra adalah dengan menekan biaya produksi dari ukuran tutup plastik kemasan botol diperpendek.

Kandungan plastik dalam pembuatan botol juga dikurangi. Dari semula 14 gram (gr) menjadi 12 gr.

Bahkan, rencananya, dus yang biasanya dijadikan tempat menampung air mineral kemasan, akan diganti. Nantinya akan diganti dengan plastik yang diharapkan bisa menekan pengeluaran.

“Kapasitas mesin juga kami tingkatkan dari semula 5.000 botol per jam menjadi 20.000 per jam,” jelasnya.

Meski persaingan ketat, pangsa pasar AMDK masih sangat besar. Jika diasumsikan per penduduk Indonesia mengonsumsi 2 liter AMDK per hari, maka dengan jumlah 250 juta penduduk, total kebutuhan AMDK mencapai 500 miliar liter per hari. Sementara pasokan hanya sebesar 27 miliar liter per hari.

“Pasar AMDK sangat bagus meski menghadapi sejumlah tantangan. Seperti kenaikan upah minimum kota (UMK) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)," ungkap Hendra.

Pihaknya optimistis target pertumbuhan penjualan hingga dua digit di tahun ini bisa tercapai. Ini seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat.

Kemudian masyarakat sudah mulai terbiasa mengonsumsi air mineral. Berbeda dengan 15 tahun lalu dimana masyarakat masih gemar mengonsumsi air sumber dari sumur yang dimasak untuk air minum.

Untuk pangsa pasar, dia mengklaim Club termasuk dalam tiga besar di Indonesia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved