Berita Surabaya

Preman Tukang Peras Sopir Truk Ekspedisi Akhirnya Duduk di Kursi Pesakitan

Kawanan preman yang dilaporkan kerap memeras para pengemudik truk ekspedisi akhirnya duduk di kursi pesakitan alias jadi terdakwa di pengadilan

Preman Tukang Peras Sopir Truk Ekspedisi Akhirnya Duduk di Kursi Pesakitan
surabaya.tribunnews.com/samsul arifin
Lima terdakwa Dari Kelompok Sakram SB Saat keluar dari Ruang Sidang Garuda 2, PN Surabaya, Senin (1/10/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kawanan preman yang kerap memeras para pengemudi truk perusahaan ekspedisi di Surabaya akhirnya jadi pesakitan alias jadi terdakwa di PN Surabaya. 

Mereka adalah terdakwa Imam Syafii, Sadir, Hariyono dan Bambang Suherman serta Dwi Wahyu Wijaksono.

Senin (10/1/2018) mereka menjalani proses persidangan di Ruang Garuda 2, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Di hadapan ketua majelis Dwi Winarko, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Putu Sudarsana membacakan surat dakwaan.

Dalam dakwaan berbunyi terdakwa dibawah asuhan Nur Syarif (DPO) membentuk kelompok pengawalan yang diberi nama Sakram SB yang dibentuk pada tahun 2013 lalu.

Kelompok tersebut tidak memiliki kantor serta tidak berbadan hukum mereka menyepakati untuk menargetkan truk milik perusahaan logistik yang berlokasi di Jalan Kenjeran, Surabaya.

Setiap truk logistik itu lewat, mereka menahan dan mengancam supir truk untuk menggunakan jasa kelompok Sakram SB, bila ingin aman di jalan.

“Namun para supir truk merasa tidak nyaman, karena mereka diancam apabila haknya tidak diberikan dia akan dikeroyok dan dihajar,” ujar JPU Putu saat bacakan dakwaan, Senin, (1/10/2018).

Sehingga para sopir melaporkan pengancaman itu ke perusahaannya karena sering dipalak oleh kelima terdakwa. Lantas perusahaan mengganti uang yang digunakan untuk membayar bajing loncat ini.

Akibat perbuatannya ini mereka dijerat pasal 368 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun.

Menanggapi dakwaan tersebut kuasa hukum terdakwa tidak mengajukan eksepsi.

Baca: Bupati Tuban Geram Ada Pabrik Arak Beroperasi di Bekas Kandang Ayam

Baca: Penjual Tisu Asal Jember Ditemukan Tewas Mengenaskan di Dalam Rumah di Sidoarjo

Dian Sugeng Utomo,kuasa hukum para terdakwa membantah ada kekerasan atau ancaman yang dilakukan oleh kliennya tersebut.

“Mereka ini sudah bertemu dengan pimpinan perusahaan di Jakarta, awal tahun 2012 itu, baru terakhir ada masalah terkait gaji, yang diberikan ke pegawai perusahaan dan bukan pimpinan perusahaan,” terangnya usai dikonfirmasi, Senin, (1/10/2018).

Dia menegaskan kliennya ini murni bekerja dan tidak ada kekerasan atau ancaman yang tercantum dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum Kejari Tanjung Perak.

“Sebenarnya nggak ada kerugian, nggak ada pencurian apa yang dicuri? Hanya kemarin itu ceritanya ingin bertemu dengan pegawai perusahaan akan tetapi pegawai itu menghindar karena gaji mereka dipegang orang itu,” imbuhnya.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved